5 komentar

Cerpen Fabel Satire ala Oscar Wilde


“Ay, ada apa? Kamu nangis?” Terdengar suara Cinta saat memasuki kamar Aya.

“Cinta? Loh, kamu … ngapain malam-malam ke sini?”

“Aduh, ditanya malah balik nanya! Bukannya kemarin Cinta udah bilang mau nginep? Sekarang, jawab, kenapa tuh mata sampai merah gitu? Ingat dosa ya?”

“Iya. Dosa Aya numpuk nih sampai nembus langit! Oh, Allahu.”

“Lah, apa bedanya sama Cinta coba? Udah, jujur aja ada apaan sih?!” kembali Cinta bertanya, sambil berbaring di sebelah Aya.

“Hmmm… sebenarnya Aya lagi nulis ringkasan kisah fabel satire yang ditulis oleh Oscar Wilde, judulnya itu The Happy Prince and Other Tales. Menurut Aya kumcernya ini wajib banget dibaca oleh semua kalangan, karena begitu banyak ibroh yang bisa diambil dari setiap kisahnya. Dan kenapa Aya bilang satire?  Karena memang demikianlah adanya, begitu banyak sindiran sebenarnya bagi kita yang membaca, mengingatkan betapa masih banyak hal keliru yang kita tafsirkan, begitu banyak hal tak jujur yang dilakukan. Intinya, kumcer ini benar-benar luar biasa.”

“Hmmm… bahasa Inggris ya, untuk tugas RCO itu kan? Oh iya, hari ini terakhir kan ya? Ya udah, sambil ngetik kamu bisa ceritakan tentang buku keren itu ya, karena Cinta nggak akan membacanya walau kamu paksa, kamu kan tahu sendiri Ay, Cinta nggak suka baca, lebih suka dibacain”

What? Kalau gitu caranya nggak kelar dong tugasnya, mana hari ini Aya juga belum ada baca, tahu!”

“Ya ampun, biasanya juga gitu, nggak usah manja deh, buruan, Cinta penasaran banget nih, pengen tahu ceritanya!”

Ampun dah yo nih anak, udah minta tolong maksa lagi! Sabar Ay, sabar!

“Mending tidur deh, ntar nggak bangun sahur lagi!”

“Iya, ini dengerinnya sambil tidur Ay, buruan gih, palli!

“Aish … maksa banget sih, ya udah, tak ceritain deh, denger yo, beneran, awas loh kalo sampe tidur! Jadi, buku The Happy Prince and Other Tales karya Oscar Wilde ini adalah kumpulan cerpen, ada tujuh kisah dalam satu buku menarik ini. Kisah pertama, tentunya ialah tentang The Happy Prince (Pangeran Bahagia), tapi kamu tahu Cin?! Pangeran bahagia ini sejatinya tidaklah berbahagia. Pangeran Bahagia dalam kisah ini ialah sebuah patung yang bertengger indah di tengah kota Eropa yang indah, batu-batu permata menghiasi seluruh tubuhnya, dua batu safir yang berkilauan sebagai matanya, helai-helai dedaunan yang terbuat dari emas menutupi tubuhnya, dan sebuah batu rubi yang bersinar di pangkal pedangnya. 

"Karena posisinya yang berada di atas ketinggian yang menjulang, membuatnya mampu melihat ke seluruh penjuru kota, dan melihat segala kehidupan yang terjadi di sekelilingnya, melihat betapa kesenjangan kehidupan itu nyata adanya, dan lewat burung Walet yang hinggap sebentar di pundaknya, Ia mulai membagikan seluruh yang Ia punya dalam dirinya untuk membantu orang-orang tak berdaya, burung Walet yang sebenarnya ingin bepergian ke Mesir pun tertahan oleh kebaikan hati Pangeran Bahagia dan membantu mewujudkan permintaan sang Patung mulia itu. 

"Namun, kamu tahu Cinta, akhir teramat sedih untuk keduanya dilewati karena ketamakan manusia yang sok berkuasa. Tidak, aku tidak akan menyebutkan apa itu, kamu bisa mencari tau dengan membacanya, walau sungguh, hanya Tuhan-lah yang Maha Adil di atas dunia ini yang mampu memberikan balasan yang pantas untuk kebaikan keduanya.

"Kisah kedua ialah The Nightingale and The Rose (Burung Bulbul dan Bunga Mawar) sungguh, kisah kedua ini, juga amat menusuk hati, oh, manusia, entah apa yang menyebabkan kalian begitu sombongnya, kamu tahu Cin, kali ini, cerpen kedua berkisah tentang seorang Pelajar yang jatuh cinta, namun gadis yang disukai hanya menyukai mawar merah, padahal dirinya tak memiliki itu, jadilah, burung Bulbul yang mendengar kisah sedih si Pelajar terenyuh hatinya, sembari mendendangkan lagu dan memulai pencariannya untuk setangkai mawar merah, dan pengorbanan yang amat menyakitkan harus dilampauinya untuk membantu si Pelajar, padahal tentu saja, siapalah Ia yang seorang hewan yang takkan berarti apapun bantuannya untuk manusia yang takkan pernah tau apa itu makna dari sebuah perjuangan.

“Cerpen ketiga berjudul The selfish Giant (Raksasa yang Egois), diceritakan bahwa ada Raksasa yang  memiliki taman yang indah, namun Ia tak mengizinkan anak-anak bermain di sana, karena keegoisannya musim semi tak menghampiri kebunnya, dan penyesalanpun tiba, tatkala melihat beberapa anak-anak bermain di sebuah pohon, dan terdapat seorang anak kecil yang kesulitan menggapai pohon besar di hadapannya dan membuatnya menangis karena hal itu. Melihat itu, tersentuh hati Sang Raksasa, Ia akhirnya membiarkan taman terbuka dan mulai dijadikan tempat bermain bagi anak-anak, dan kebunnya pun kembali indah. Namun, hal yang menjadi misteri bagi Si Raksasa ialah setelah hari pertama dibukanya taman untuk anak-anak, seorang anak yang berhasil meruntuhkan keegoisannnya kala itu tak lagi datang.

“Keempat, kisah ini tentang The Devoted Friend (Teman yang Setia/Sejati), satu lagi kisah yang menyayat hati tentang sebuah pengorbanan seorang teman. Dikisahkan oleh seekor Tikus Air Tua dan teman-teman hewannya mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans memiliki “teman sejati” bernama Miller, sungguh membaca kisah ini membuat Aya amat simpati pada kepolosan hati Hans, dan membuat Aya amat jengkelnya pada si Tuan Kaya Miller yang hingga akhir masih saja menganggap dirinya ialah “teman sejati” Hans kecil, padahal tiada kejujuran dari setiap kebaikan yang diberikannya, selain hanya menginginkan imbalan yang setimpal.

“Cerpen fabel kelima ialah The Remarkable Rocket (Roket yang Luar Biasa), mengisahkan sebuah kerajaan yang tengah berpesta untuk pernikahan sang Pangeran dengan seorang putri cantik. Segala macam kembang api berlomba memeriahkan pesta, mulai dari yang mungil hingga yang besar, dan akhirnya memperlihatkan sang Roket yang Luar Biasa yang mengoceh tak karuan, akibat ocehannya yang berkepanjangan tentang betapa penting dan hebat dirinya, membuat sang Roket justru tak dapat menunjukkan keluarbiasaanya itu akibat ulahnya sendiri yang begitu sombong tak terelakkan dan hanya menjadi kesia-siaan belaka.

“Cerpen keenam berjudul The Sphinx Without a Secret, mengisahkan seorang Gerald yang jatuh cinta pada seorang wanita misterius bernama Lady Alroy, Gerald yang tengah memperjuangakan cinta, sering berkirim surat pada Lady Alroy, dan akhirnya karena kemisteriusan wanita itu, membuatnya pergi selama sebulan, dan sekembalinya Gerald, Ia tak dapat menemui  wanita itu lagi, karena ternyata Lady Alroy mengidap penyakit paru-paru dan akhirnya meninggal dunia membawa dunia fantasi yang diukirnya.

“Dan cerpen terakhir yaitu The Birthday of The Infanta. Infanta adalah seorang Putri raja Spanyol, di ulang tahunnya yang begitu meriah, segenap rakyat dan semua bunga, tanaman, dan pohon di taman istana ikut memeriahkan acara. Dan seorang anak kecil yang dipanggil untuk melakukan pertunjukan, Ia menari disertai keriuhan rakyat yang menontonnya, bahkan sang Putri raja memberikan mawar putih untuknya, yang membuatnya berpikir bahwa sang putri menyukainya. Singkat cerita, anak kecil itu kembali ke istana, dan sadarlah Ia siapa dirinya sebenarnya, tatkala melihat bayangan diri yang bak monster menakutkan dan mulai menyadari bahwa keriuhan yang didapat sebenarnya bukan karena sebuah kekaguman namun justru menertawakannya. Menyadari hal itu, membuat dirinya jatuh, dan perlahan jantungnya berhenti berdetak.

“Sungguh, tujuh cerpen yang mampu mengoyak hati ini, dan membuat Aya tak henti merenungi diri, telahkah diri ini menjadi manusia seutuhnya, sudahkah cinta tulus itu diberikan pada sesama, ah… manusia! Wuah … udah larut aja ya Cin, alamat nggak tidur nih!”

Dan kamu tahu, sesuai dugaan, Cinta udah tertidur dengan nyamannya, aish… dasar, selalu saja… eh, kok rasa dejavu ya?! Ah, sudahlah!

#TugasRCO 
#Tugas2Level4 
#OneDayOnePost 
12 komentar

Celoteh Cinta untuk RCO di Masa Depan


“Ayaaa… teror masih berlanjut, dan sekarang Mapolda Riau jadi sasaran. Ya Allah, apa sih maunya orang-orang tak beradab itu? Buat rusuh aja! Mana, sekarang kita juga diperlihatkan dengan keadaan Palestina yang kian mencekam! Allahu, sungguh telah amat dekat kiamat itu!” terdengar suara penuh emosi diselingi kecemasan di seberang sana. Yah, kembali Cinta membuat kejutan, di tengah asyiknya Aya menikmati kelonggaran aktivitas kerja Rabu ini, tiba-tiba si gawai yang tengah diberi energi, berdering nyaring memperdengarkan lantunan syahdu milik Raef.

“Iya, Cin. Apapun tujuan mereka, siapapun para penebar teror itu, mereka ingin memecah kedamaian, ingin umat manusia gusar, tapi, tentu saja itu tidak akan membuat kita takut, tidak akan bukan?! Dirimu sendiri kemarin yang bilang begitu, di sini, jadi, cukuplah pihak yang berwenang mengatasinya, dan tugas kita untuk membuat sekeliling agar tidak panik, ikut mendamaikan, ikut meluruskan, dan yang paling penting berserah pada-Nya, semoga semua hal yang terjadi di atas dunia fana ini, segera mendekati akhirnya, dan kita diberi kekuatan menjalaninya. Aamiin!”

“Iya, Ay, kamu bener! Oh iya, tumben nih, telponnya diangkat, lagi senggang ya?” kembali gadis menggemaskan itu memperdengarkan tawanya, seolah lupa pada amarahnya yang baru saja.

“Iya, Cinta, ada acara sih sebenarnya, tapi, males ikutan, jadinya jaga gawang aja di ruangan, lagian refresh sejenaklah menjelang Ramadan besok!”

“Oh iya, berarti bisa ngobrol dong ya?”

Ampun nih anak, bukannya udah dari tadi celotehanya ya?!

“Trus apa kabar RCO-mu tuh Ay, udah kelar? Lulus nggak?”

“Hahaha… inget aja lu Cin, belum. Tanggal 19 nanti berakhir, tgl. 20 pengumuman, InsyaAllah. Wuah, tentang hal itu, Aya kembali menggunakan kemaksimalan bolos nih, di setiap level kayaknya. Heu, emang ya, sukar banget bagi waktu!”

“Ya ampun, udah sering begadang gituh, masih suka bolos juga? Lu ngapain aja emangnya Ay?”

“Ampun deh ya, menjelang Ramadan gini, agenda jadi makin full dari biasanya. Ah, ya udah deh, Aya lanjut baca ya, mumpung ada masa nih!”

“Eits, tunggu dulu, Cinta masih mau nanya nih, trus di level terakhir ini, tugasnya apaan?”

“Aigoo, nih anak yo! Kita diwajibkan baca buku biografi tokoh Indonesia dan buku bahasa asing untuk level terakhir ini, untuk tugasnya, kita diwajibkan nulis review-nya dalam bentuk puisi untuk buku biografi, dan ringkasan minimal 150 kata untuk buku bahasa asing, selain itu, kita juga ditugaskan untuk menuliskan kesan, pesan, dan saran untuk pengembangan RCO di masa depan!” bisa kamu bayangkan, Aya ngomong gitu dalam satu nafas, heuh… untung nggak panjang.

“Wow, keren tuh, biografi ya? Ah, itu kenapa kamu baca buku tentang Buya Hamka ya Ay? Dan bahasa asing? Wuih, kereeennn. Kamu baca apa? Eh, nggak ding, nanti juga ditulis ya?! Untuk tugas lainnya itu, boleh ikut kasih krisan nggak?!”

Masih lanjut aja celotehannya, Please, Miss. Cinta!”

“Okay, jadi, menurut Cinta nih ya, RCO ini udah keren banget sesuai namanya, reading challenge odop. Benar-benar buat challenged, dan lagi, manfaatnya besar banget, buktinya di kamu Ay. Iya sih, kamu emang suka baca, tapi kan rekormu nggak pernah sekeren pas ikutan RCO yang pernah sampai ratusan halaman dalam sehari. Cinta pernah mergokin kamu seharian baca, bahkan sampe sering banget begadang, walau yah, nggak baik sih emang, tapi, beriring masa, kamu mulai bisa me-manage waktu bukan? Nggak lagi suka begadang, sekalipun kamu baca tengah malam, tapi itu karena kamu udah tidur di awal waktu. Dan lagi nih, referensi bacaan kamu juga makin bertambah, pengenalan dengan berbagai genre, sekalipun kamu mungkin nggak suka atau bahkan nggak pernah baca sekalipun, tapi tetap kamu baca, karena tertantang. Bener toh?!”

Bener juga sih, apa yang diomongin nih anak!

“Untuk sarannya nih, iya sih, RCO masa ini udah keren banget. PJ-nya te-o-pe-be-ge-te deh, challenge-nya juga keren bingits, saran dari Cinta sih, supaya makin ketje nih RCO, mungkin bisa gini nih, setiap peserta RCO, para challenger di-sunnahkan menulis review bacaan sesuai passion-nya mereka masing-masing, ini khusus bacaan di luar kewajiban. Kan, pasti ada yang baca lebih dari dua buku yang diwajibkan. Asyikkan tuh pasti, menambah referensi dan setidaknya jadi sedikit tahu genre apa yang paling banyak menjadi bahan bacaan. Bisa jadi penelitian juga tuh, eh?! Hahaha… lanjut ya, saran selanjutnya untuk perkembangan RCO di masa depan. Untuk meringankan beban para PJ, dan agar semua ikut berpartisipasi aktif dan mengurangi jumlah eliminasi, bisa tuh, jelang pergantian level, diberikan masa untuk diskusi untuk challenge selanjutnya, para peserta bisa ikut bermusyawarah menentukan, dan tentu saja, harus menghormati apapun keputusan yang diberikan. Toh, semuanya udah dewasa pasti, jadi InsyaAllah diskusinya akan berjalan alot, dan lagi pasti seru toh, saling mendengarkan apa yang diinginkan. Hihihi… kayaknya itu aja deh sarannya, kalau kebanyakan ntar nggak ketampung, dan makin ngelantur yang ada.”

Kamu tahu?! Setelah bicara begitu, seperti biasa, tuh anak, nyelonong ae pergi. Panggilan langsung diputus, ya ampuuunnn bikin greget deh!

#TugasRCO
#Tugas3Level4
#OneDayOnePost

0 komentar

Rahasia Kehidupan Rina



Sumber Gambar : google.com

“Rina, kamu di mana sayang? Sini bentar deh mama mau bicara!” seru Ibu Mirna memanggil anak gadis semata wayangnya lembut.

“Iya Ma, bentar!” sahut Rina dari dalam kamarnya.

“Ada apa sih Ma, kok kayaknya serius banget?” tanyanya saat telah duduk berdampingan dengan mamanya.

Sambil mengelus kepala Rina dengan sayang, bu Mirna berkata, “Enggak sabaran banget, kenapa? Ayo ... ngapain di kamar?!” godanya dan disambut cemberut oleh Rina, melihat itu mamanya makin gemes dan akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya berat ingin disampaikannya.

“Rina sayang kan sama Mama?” 'duh Allah, hamba tidak tega meninggalkannya.'

“Ma, Rina sayang banget sama mama, nggak ada yang lain di hati Rina selain mama dan papa! Tapi, tolong Ma, cerita sama Rina, ada apa sih? Mama ada masalah ya? Walaupun Rina masih terlihat seperti anak kecil, tapi Rina akan berusaha bersikap dewasa. Mama percaya deh sama Rina! Nggak usah takut, mudah-mudahan Rina bisa bantu permasalahan Mama?!” ucap Rina meyakinkan mamanya tercinta.

“Iya sayang, Mama bangga padamu, kamu bisa lebih dewasa dari umurmu. Baiklah! Begini, Mama dan papa  akan pergi keluar kota, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan dan mungkin juga keluar negeri. Jadi…”

“Oo … itu toh! Tenang aja Ma, Rina udah gede, Rina bisa kok tinggal sendiri, lagian kan ada pak Maman, mbak Sum dan mas Karyo yang nemani dan bantuin Rina. Itukan udah tugas mama dan papa, lagian harusnya Rina berterima kasih dan malu. Karena Rina, mama dan papa rela ngelakuin rutinitas yang seabrek gini, Rina bangga pada mama dan papa!” ucap Rina memotong perkataan Ibundanya dan mengecup pipi Beliau dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis harunya.

“Sayang, ini sudah merupakan kewajiban kami memenuhi semua hak kamu. Hanya saja, Mama tidak ingin meninggalkan kamu sendiri, walau ada pembantu di rumah ini. Jadi, Mama minta tolong pada Sari, kakak sepupu kamu untuk menemani kamu! Kamu gak keberatan kan sayang? Kebetulan dia juga bersedia.”  terang Beliau  meminta persetujuan Rina dengan tetap mengelus rambut lurus Rina yang lebat.

“Ya … nggak apa-apa! Ya udah, Rina ke kamar dulu ya Ma! Bye Mama!” jawabnya mengakhiri pembicaraan, lalu beranjak dari sofa dengan tersenyum paksa pada mamanya itu.

“Terima kasih sayang, kamu memang anak mama yang baik hati!” hilanglah keraguannya berganti dengan kenyamanan.

Di dalam kamarnya, Rina tak henti-hentinya mengutuki dirinya sendiri. 'Bego… bego… bego… kenapa sih, gue nggak nolak aja permintannya Mama, yakinin Mama kalau gue bisa hidup tanpa kehadiran orang lain, apalagi nih Sari???  Nyebelin banget, kenapa sih tuh anak sok baik banget mau nerima permintaan Mama buat nemanin gue? Padahal kan gue  jelas-jelas gak suka sama dia! Sebel… dasar bego…'

-ooOoo-

Assalamu’alaikum Rin, enggak ada acara hari ini?” sapa Sari ramah ketika melihat Rina dengan pakaian santainya. Kaus dan celana seperdelapannya.

Kumsalam, nggak, gi males!” sahut Rina tidak semangat.

“Wah, ada apa nih, tumben-tumbennya seorang Rina yang biasanya punya acara seabreg, sekarang malah males-malesan?! Ikut mbak yuk, mbak sama temen-temen mau pergi ke tempat yang pasti membuat kamu yang lagi enggak bersemangat ini, jadi kembali semangatnya. Mbak jamin deh! Ya, mau ya?” bujuk Sari tetap dengan keramahan dan candaan kecil.

“Nggak, makasih! Mbak Suuum … sarapannya dah siap beluuum?” teriak Rina dari ruang santainya.

“Eh, iya Non sudah siap. Baru saja mbak mau manggil Non Rina buat sarapan. Mari Non!” jawab Mbak Sum sopan, walau nafasnya terengah-engah karena berlari dari dapur menuju ke ruang santai anak majikannya.

“Ya udah, panggil mas Karyo suruh sarapan sama-sama, gue tunggu di ruang makan!” tanpa menghiraukan Sari yang tersenyum penuh arti padanya, Ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang makan.

Di ruang makan, Rina yang sudah menyeduh sarapan nasi gorengnya ke piring dan mengisi gelasnya dengan susu coklat kesukaannya menunggu kedatangan para pembantunya, “Lama banget sih, ngapain aja! Atau nggak mau sarapan barengan gue?!” sungut Rina kesal, melihat kedatangan mbak Sum, dan mas Karyo disusul oleh Sari.

“Maaf Non, tadi mas karyo ada urusan bentar. Ya udah, ayo Non sarapan!” akhirnya mereka duduk dan mulai mengisi piring dan gelas yang sudah ada di depan mereka, tiba-tiba Rina bangkit membawa sarapannya.

“Loh, Non Rina mau kemana? Katanya mau sarapan bareng?!” tanya Mbak Sum heran.

“Tadinya sih gitu, tapi gue jadi enek, gue makan di kamar aja!” memandang sinis ke arah Sari.

“Kalau gitu mbak Sum bawain sarapannya ya Non” Mbak Sum bangkit dari tempat duduknya, hendak membantu Rina, tetapi dicegah olehnya.

“Nggak usah, Mbak makan aja, kerjaan Mbak kan masih banyak, lagian Mbak juga harus gantiin kerjaannya Pak Maman ngurus kebun dan kolam renang!” tegasnya dan pergi meninggalkan ruang makan.

“Maaf, harusnya saya tidak ikut sarapan bersama, jadinya kan mbak Sum dan mas Karyo bisa sarapan bareng Rina” terang Sari menyesali kepergian Rina yang disebabkan olehnya.

“Loh kok ngomong gitu toh Non? Saya tau Non Rina tidak suka pada Non Sari, tapi mungkin karena tidak ada nyonya dan tuan, makanya si Non jadi tidak bersemangat begitu!” bela Mas Karyo.

“Terima kasih mas Karyo, tapi memang begitulah adanya. Apa salah saya ya sehingga Rina benci sekali pada saya?” tanyanya, entah pada dirinya sendiri atau pada  kedua pembantu yang sarapan bersamanya itu.

Melihat keponakan majikannya sedih, mbak Sum jadi berempati dan memegang tangan Sari, “Non, tidak ada yang perlu disalahkan! Kita semua tahu Non Rina berubah saat kakak satu-satunya yang paling menyayangi dan disayanginya meninggal dunia, walau begitu Ia tetaplah anak yang baik dan perhatian!”

“Iya Mbak, saya tahu, saya juga bangga padanya. Dia memang berubah, tapi kebaikan hatinya tidak pernah terlepas dari dirinya!” senyum manis bertengger di bibir gadis berumur dua puluh satu tahun ini, baju gamis lebar dan jilbab lebarnya menambah aura kecantikannya makin terlihat.

-ooOoo-

Jam di dinding rumah telah menunjukkan pukul 10.00 pagi, tapi Rina tidak juga keluar dari kamarnya. Sahutan mbak Sum tak digubrisnya, hingga tiba waktunya Sari harus pergi menuju tempatnya berkumpul bersama teman-temannya. Tapi Ia tetap bersikukuh ingin mengajak Rina, jadi Ia memberanikan dirinya untuk membujuk Rina.

Assalamu’alaikum, Rin. Teman-teman mbak udah pada di sana, kamu ikut dengan mbak ya, ayolah! Mbak enggak enak ninggalin kamu sendiri. Mbak tahu kamu suka sekali ke tempat-tempat yang berbaur langsung dengan alam, makanya mbak ngajak kamu. Mbak juga tahu, sejak kepergian mas Aldi kamu gak pernah lagi ke tempat favorit kamu itu kan?” hati-hati sekali Ia menyebut nama Aldi. 'Ya Allah, luruhkanlah hati Rina untuk pergi bersama hamba.'

Mendengar nama Aldi, Ia jadi teringat peristiwa mengenaskan yang tak pernah bisa diterimanya. Hingga Ia kehilangan kepercayaan kepada semua yang telah diyakininya selama ini. 'Huh … ngapain sih nih cewek ngotot banget ngajakin gue, tapi??? Ya udah deh, buat nenangin diri kayaknya nggak apa-apalah gue ikut, toh gue emang dah lama banget nggak ke tempat yang super indah itu.'

“Rina? Alhamdulillah, ayo kita udah ditunggu!” saking senangnya Sari melihat Rina yang luruh juga hatinya menarik tangan Rina, Rina hanya menurut saja tangannya digandeng. Entah kenapa jantungnya berdebar tak karuan. 'Aduh, kenapa sih, hai hati Lo kenapa?' Saking bingungnya Ia malah bertanya pada hatinya sendiri.

-ooOoo-

Assalamu’alaikum, Ukhti!” sapa seorang cowok dari arah belakangnya. 'Duh, suara itu?! Tapi, kok manggil gue Ukhti sih, kalau cewek kayak mbak Sari sih cocok dipanggil Ukhti, lah gue? Nggak pantes banget!'

Wa’alaikumsalam!” jawabnya ramah. Ia sendiri tak menyangka bahwa Ia bisa menjawab salam itu dengan ramah, padahal biasanya Ia tak bersemangat menjawabnya.

Lelaki yang memanggilnya Ukhti itu, duduk agak berjauhan darinya, tanpa menoleh Ia kembali bersuara, “Ana yakin anti sedang terpana melihat alam yang berada di hadapan kita ini. Sungguh menakjubkan, luar biasa bukan? Yah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam yang indah ini! DIA…”

“Hentikan! Kalau Lo ingin memuji-Nya, silahkan di tempat lain, bicaralah pada orang lain. Gue nggak sudi mendengarnya. Hati ini panas mendengar nama-Nya!” potong Rina, entah kekuatan dari mana, kini Ia kembali menjadi Rina yang jutek. Sejak kejadian mengenaskan itu, Ia tak percaya lagi pada Sang Maha, Zat yang dulunya sangat dipercayainya.

“Kenapa? Bukankah memang demikian?! Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan dan kekuasaan Allah, DIA-lah yang telah menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi. Lihatlah alam di depanmu, langit yang dipenuhi awan putih yang indah, burung-burung yang berterbangan kesana-kemari, bunga-bunga indah bermekaran, hingga mampu menggugah kumbang untuk mendekatinya, manusia yang selalu diberi nikmat yang berlimpah. Semua keindahan alam ini, Allahlah yang menciptakan dan mengaturnya. Bukankah hanya kekuatan yang besar yang bisa mengatur semua ini, dan Allah-lah Sang Maha Besar itu!” jelasnya dengan penuh semangat, tetap dengan suara rendah tanpa emosi.

Sungguh mulia hati pemuda ini, tapi Rina pun pernah mendengar itu, bahkan sempat mempercayainya, dan ucapan itu kini tidak bisa lagi meruntuhkan hatinya yang telah keras.

“Gue tahu, perkataan itu pernah diucapkan oleh seseorang. Tapi Dia telah meninggal dunia” sahut Rina sedih, Ia benar-benar tidak dapat lagi memendam perasaan sakitnya, tangisnya pecah.

Innalillahiwainnailaihirajiun! Moga Ia tenang di alam sana. Jika demikian, Ia pasti akan mendapatkan janji Allah untuk memberikan yang terbaik pada hamba yang terbaik!” ucapnya lirih.

“Yah, harusnya memang demikian, tapi DIA telah ingkar pada janji-Nya. Ia mengambil mas Aldi dengan cara yang sangat menyedihkan dan jauh dari kematian yang seharusnya dihadapi oleh mukmin yang beriman!” seru Rina, Ia benar-benar marah pada-Nya.

Astaghfirullahal’adzim! Ketahuilah, hanya Allah, Zat yang tidak pernah ingkar pada janji-Nya. Apa yang menyebabkan anti berpikir seperti itu?” suaranya terdengar prihatin, Ia tidak terlihat emosi mendengar kemarahan gadis yang tak diketahui wajahnya karena memang belum melihat ke arah gadis itu.

Begitupun Rina, entah kenapa Rina enggan menoleh pada cowok yang menumbuhkan kembali rasa sakitnya.

“Mas Aldi orang yang baik dan sangat baik malah, Ia tidak pernah terlihat mengeluh, Ia selalu melakukan apapun untuk menyenangkan hati orang-orang di sekitarnya, Ia selalu berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, Ia tidak pernah meninggalkan ibadah wajib dan sunnahnya, Ia selalu berkata bahwa apa yang dilakukannya hanyalah untuk menggapai ridho-Nya. Tapi apa balasan yang diterimanya dari Zat yang sangat diagung-agungkannya itu...?!” Rina berhenti mengatur nafas dan tangis yang semakin deras keluar dari matanya.

Cowok itu hanya mendengarkan, tidak ingin menyela karena Ia yakin Rina masih ingin meneruskan ucapannya. Dan ternyata ya. Rina terus mengungkapkan isi hatinya, yang telah lama dipendamnya.

“Mas Aldi meninggal dunia saat Ia akan pergi mengisi tausiyah di kampusnya, dengan mengendarai motornya Ia menjalankan tugas yang dinanti-nantinya itu. Heh ... mas Aldi, betapa senangnya Ia bisa berdakwah. Tapi dalam perjalanan menuju kampus, sebuah truk menabraknya, sopir truk itu mabuk, hingga tak menyadari keberadaan sepeda motor di depan truknya. mas Aldi meninggal seketika dengan darah yang terus mengucur dari tubuhnya, motornya hancur berantakan. Apa itu balasan bagi orang yang selalu menjaga dirinya berada di jalan yang benar? Kematian yang sangat mengenaskan? Harusnya Ia meninggal seperti apa yang telah didambakannya, husnul khotimah!” lega sudah perasaannya.

Yah bukankah permasalahan itu akan sedikit hilang bila telah terungkapkan segalanya, walau belum terpecah seutuhnya, setidaknya Ia telah bisa melampiaskan amarahnya.

Subhanallah! Maha Suci Allah atas segala yang terjadi di dunia ini, Ukhti tidakkah terpikir olehmu justru kematian itu adalah bentuk kasih sayang Allah pada kakakmu yang berhati mulia itu, Ia mengambil seketika nyawa kakakmu tanpa membuat dia merasakan sakit yang luar biasa. Coba anti pikir, betapa banyak manusia yang menderita hidupnya akibat kecelakaan seperti yang dialami almarhum, koma beberapa hari, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, lumpuh total hingga hanya bisa meratapi hidupnya di atas kasur, mereka hidup tapi seperti orang yang tak bernyawa."

“Dan Allah, karena kasih sayang-Nya pada almarhum tidak membiarkan hal menyedihkan itu terjadi padanya, karena memang Ia adalah manusia yang terbaik, malaikat, nabi, para sahabat, dan orang-orang mukmin yang beriman dan bertaqwa pada Allah menanti kedatangannya. Semua yang ada di dunia ini telah diatur oleh Allah, hidup ini pilihan dan manusialah yang memilih jalannya, apakah jalan yang diridhoi Allah atau jalan menuju kesenangan dunia, dan mas Aldimu telah memilih jalan yang tepat."

“Bukti kasih sayang Allah, juga ada pada dirimu. Lihatlah, DIA masih menjagamu, memberikan nikmatnya, padahal anti jauh dari-Nya, anti tidak lagi percaya pada-Nya, bahkan berprasangka buruk. Tapi apa balasan-Nya atas ketidaksukaanmu, Ia justru memberikan nikmat kehidupan yang jauh dari kesengsaraan padamu, padahal di luar sana, betapa banyak orang-orang yang menderita kehidupannya, sedangkan mereka sangat mempercayai keagungan-Nya. Tapi mereka tidak pernah mempersoalkan itu, karena kebahagiaan akhiratlah yang mereka inginkan!” urai cowok itu dengan beberapa butir air mata menetes membasahi wajah dan pakaian yang dikenakannya. Ia bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan Rina yang masih tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

Perkatan cowok itu benar-benar menusuk hati dan berhasil meruntuhkan kekerasan hatinya. Hingga saat Ia menoleh untuk mengucapkan terima kasih, lelaki itu tak ditemukannya lagi. 'lelaki itu telah pergi, seperti malaikat saja, tapi apa mungkin yah? Bisa jadi Ia adalah malaikat yang diturunkan untuk menyadarkan gue.'

“Rina ... ternyata kamu disini?! Ayo, kita salat dzuhur, setelah itu kita berangkat bersama ke tempat yang akan lebih membuka pintu hati kita dan takkan henti bersyukur pada nikmat-Nya yang melimpah dalam diri ini.” karena begitu semangatnya, Sari tak menyadari mata cantik Rina bengkak oleh tangisnya. Rina bangkit dengan hatinya yang lebih baik dari sebelumnya.

'Udah lama gue nggak salat dan berdoa, tapi Allah tetap saja memperlihatkan kasih sayang-Nya. Astaghfirullahal’adzim. Rabb, Engkau tak pernah meninggalkanku, Engkau tak pernah membiarkanku berbuat hal yang buruk, padahal bisa saja itu terjadi. Tapi, atas pertolonganmu, aku tak tersentuh pada segala keburukan itu. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Hamba datang Rabb, hamba kembali pada-Mu, tuntunlah selalu hati ini di jalan-Mu. Aamiin.'

-ooOoo-

Rombongan Sari telah tiba di tempat tujuan terakhir mereka, Panti Asuhan Hidayatullah. Di tempat inilah kembali mereka akan mengintropeksi diri termasuk Rina. Ia kini bersama seorang remaja seumurannya, gadis itu begitu tegar tanpa sedikitpun terlihat berkas kesedihan di matanya, padahal Ia sedang menceritakan nasibnya yang begitu jauh dari nikmat kasih sayang kedua orang tua.

“Aku kadang rindu sama kedua orang tuaku, walau mereka meninggalkanku di sini sejak aku bayi, tapi mereka tetaplah orang tuaku. Aku yakin Allah punya rencana di balik peristiwa yang kualami ini. Yah, aku memang selalu mendapatkan kasih sayang dari ummi, mas Imam, serta saudara-saudariku di sini. Tapi tak berlebihan bukan bila aku juga ingin merasakan pelukan ibu dan ayah, serta hidup dalam keluarga yang harmonis. Kadang aku iri melihat teman-temanku di sekolah yang diantar-jemput oleh orang tuanya."

Aku sadar, harusnya aku bersyukur karena Allah sayang padaku, hingga tak membiarkanku menjadi gelandangan. Walau terkadang kehidupan di panti asuhan ini penuh dengan segala cobaan, seperti kelaparan, ejekan teman, dan hal yang menusuk kalbu lainnya. Namun, bukankah memang setiap kehidupan itu akan mengalami cobaaan sesuai kemampuannya?! Cobaan yang kami alami merupakan tanda kasih sayang Allah pada kami. Hingga saat kami merasakan kehidupan yang berkecukupan, kami akan sangat mensyukurinya.” Mendengar penuturan tulus dari gadis di sampingnya, Rina semakin sadar dan mensyukuri apa yang telah dialaminya.

'Mama, Papa, Rina kangen. Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberikan kedua orang tua yang sayang pada hamba dan kehidupan yang serba berkecukupan. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, selama ini aku selalu menyalahkan Allah. Ampuni hamba Rabbi, jaga orang tua hamba yang masih berjuang demi kebahagiaan hamba.' Tanpa sadar Rina memeluk gadis yang telah menyadarkannya betapa kehidupan ini harus disyukuri bagaimanapun keadaannya.

Seorang cowok yang dari tadi hanya mendengar dari jauh, langsung mendekat. “Alhamdulillah, sesungguhnya hidayah itu adalah milik Allah, DIA-lah yang berhak menentukan kepada siapa hidayah itu diberikan, dan manusia hanyalah berkewajiban berdakwah serta menyerahkan hasilnya pada Allah.” serunya haru.

Rina kaget melihat cowok yang kini berada di depan mereka itu. Wajahnya, suaranya, mengingatkan Rina pada seseorang. Cowok itulah yang telah membuka pintu hatinya yang hampir tertutup. Dan ternyata cowok itu benar-benar mirip dengan insan yang begitu dirindukannya. Ia seperti melihatnya kembali. Ingin sekali rasanya Ia memeluk cowok tampan itu, tapi Ia sadar hal itu tidak mungkin dilakukannya.

“Mas Imam, kaukah itu, ke mana saja? Nadia kangen ingin dengar cerita-cerita mas tentang keagungan Allah yang tiada tara itu!” Ucap gadis di samping Rina, yang ternyata bernama Nadia dan Rina lebih terkejut lagi karena ternyata Nadia buta. 'Ya Allah, Nadia, Subhanallah!'

-ooOoo-

Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, Rina berubah total, Ia kembali menjadi gadis yang periang, yang sering mengusili mbak Sum, bila terlihat olehnya mbak Sum masak sambil senyum, Ia akan membuat pembantunya itu malu.

Yee... yang lagi kasmaran? Mikirin si pujaan hati ya?” begitulah Ia menggoda pembantunya yang hanya terpaut satu tahun lebih muda dari mas Aldi, bahkan sempat terpikirkan untuk menjodohkan keduanya. Karena mbak Sum adalah pembantu tercantik di kompleksnya, baik, dan tak pernah melepas jilbabnya.

Siapa lagi yang telah merebut hati dan pikiran mbak kami tercinta ini?” godanya lagi, hingga membuat mbak Sum hanya bisa tersipu malu dan terus memasak.

Tidak ketinggalan pembantunya yang lain, bila dilihatnya pakde Maman sedang membersihkan kolam renang, dengan sengaja Ia akan melempar beberapa bungkus makanan ke kolam, dengan begitu pak Maman akan ngedumel pelan,

“Duh Non, kolamnya sudah bersih, kok malah dikotori lagi toh?” sungutnya sambil tetap menyelesaikan tugasnya yang tadinya telah selesai.

Dan bila pakde Maman terlihat mengurut dadanya dan terbatuk-batuk, maka Rina jadi menyesal dan membantu pakde Maman mengambil alih pekerjaan pembantunya yang telah berumur mendekati kepala lima.

“Maaf ya Pakde, gue cuma becanda kok, sini biar gue yang bersihin!” sahutnya sambil mengambil jaring yang ada di tangan pakde Maman.

Lain lagi dengan nasib satpamnya, Rina akan mengajak satpam kesayangannya  mas Karyo bermain basket. Jelas saja mas Karyo yang juga satpam termuda di kompleksnya kalah dengan Rina yang sangat ahli dalam permainan basket. Dan bila telah kalah, Mas Karyo harus dengan rela menerima hukuman dari Rina yang terkadang aneh dan menegangkan buat satpamnya. Misalnya, saat itu, Rina malah menginginkan satpamnya itu mengajarinya mengendarai mobil, atau pernah diminta menemani sang majikan ciliknya berjalan berkeliling kompleks.

Bahkan, tak segan-segan Rina akan meminta mas Karyo untuk menggoda cewek yang lewat di depan mereka, jelas saja mas Karyo menolaknya dan akan dengan rela terpaksa menggendong Rina di punggung gagahnya mengelilingi kompleks, karena memang Ia adalah cowok yang takut pada cewek. Entah kenapa Ia begitu takut menyakiti hati wanita, dan hal itu membuat Rina bangga pada satpamnya itu, bahkan sempat terpikir olehnya untuk menjodohkan mas Karyo dengan mbak sari, 'mereka pasti akan menjadi pasangan yang serasi, istri shalihah dan suami yang shalih.' Kadang Rina tertawa sendiri menyadari apa yang ada di pikirannya. 'Aneh-aneh saja!'

Begitupun dengan Sari, Ia tak kehabisan akal untuk menjahilinya. Yah, sejak saat itu, Rina kembali akrab dengan Sari, mereka selalu terlihat tertawa bersama, dari Sari, Rina tahu bahwa kebutaan yang terjadi pada Nadia disebabkan karena kecelakaan, juga tentang Imam yang ternyata juga anak dari panti asuhan hidayatullah. Imam jugalah yang membantu Umi Hanifa menafkahi anak-anak panti.

Oh ya, untuk Sari, Rina akan menggodanya dengan cara yang cukup unik. Ia akan mengajak mbak Sari yang sangat dikaguminya itu berdiskusi, dan entah dari mana akan langsung melebar hingga mengenai kehidupan pribadi Sari. Yah, Ia akan menggoda sepupunya itu, “Terus, Mbak Sari kapan akan melabuhkan hati yang suci itu? Gue kepengen gendong ponakan nih Mbak, gimana kalau...”

Belum selesai Ia menggoda, Sari segera menanggapi gurauan adik sepupunya itu, Kamu ini selalu saja membicarakan hal itu. Tidak capek apa menggoda mbak terus?!” Walau begitu Rina akan kembali takjub dengan petuah kakak sepupunya.

“Rezeki, Jodoh, dan kematian itu telah digariskan oleh Allah, kita sebagai manusia hanya dapat berusaha  untuk meraih kehidupan yang di ridhoi-Nya. Syukuri apa yang telah diberikan Allah padamu, jangan pernah mengeluh, jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Ingatlah, hanya cinta Allah pada hamba-Nya-lah merupakan cinta sejati. Cinta yang ada pada diri manusia itu adalah anugerah Allah. Karena itu, manusia harus bisa menjaga cinta yang di anugerahkan pada hatinya itu untuk semakin dekat dengan Sang Pemilik Cinta yang sesungguhnya. Jangan sampai cinta itu justru membuatmu jauh dari-Nya. Naudzubillahi mindzalik, moga kita tergolong hamba yang terjaga cintanya dan hanya menyerahkan cinta kita sepenuhnya pada Allah SWT.”

'Hah, bener, gue nggak akan pernah menang dengan mbak Sari. Tapi, gue seneng karena kata-kata yang diucapkannya itu akan menjadi pegangan dalam hidup gue untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan diridhoi-Nya.'

-ooOoo-

Hari ini hampir seluruh acara di televisi menyiarkan tentang persiapan masyarakat menyambut bulan ramadan. Yah, esok umat muslim akan menjalankan salah satu rukun Islamnya berpuasa di bulan ramahan. Rina kembali teringat pada Aldi, saat di mana hatinya begitu gelisah saat Aldi pergi ke kampusnya, dan kegelisahan itu terjawab. Tapi, ada satu hal yang hampir saja terlupa olehnya. Beberapa menit sebelum pergi, Aldi menyerahkan sebuah bingkisan padanya, padahal saat itu Ia tidak sedang berulang tahun.

Semenjak kematian kakak tercinta, bingkisan itu tak pernah disentuhnya, tersimpan di dalam lemari belajarnya. Malam menjelang puasa itu, Ia memberanikan diri membuka bingkisan pemberian Aldi. Berurailah air matanya saat melihat isi bingkisan itu, Ia mengambil kertas surat yang ada, dan mulai membacanya diselingi isak tangis yang mengalir deras di wajahnya.

Assalamu’alaikum, Rinaku sayang,
Hei, jangan nangis dulu dong, belum kebaca seluruhnya nih, hehe... pede banget yah, ya iyalah secara gitu loh. Pasti ngedumel nih, iya deh afwan, eh tau afwan kan?! Hehe... oke. Serius nih, bener serius!
Adikku, pujaan hatiku, belahan jiwaku.
Mungkin saat engkau membaca surat ini, mas telah kembali pada cinta kita semua, Allah SWT. karena itulah akhir kehidupan manusia di dunia. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kematian merupakan ujian bagi orang yang ditinggalkan, semoga engkau, mama, papa, dan keluarga dapat menerima ujian ini dengan lapang dada dan tetap berserah diri pada Zat yang Maha Mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan makhluknya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Bidadariku,
Mas sangat bersyukur pada Allah, alhamdulillah, mas diberi keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Apalagi engkau, mas sangat bersyukur diberi adik yang begitu tulus, mas salut padamu, saat remaja seumuranmu belajar bagaimana memanfaatkan harta, kehidupan, dengan cara menikmati keindahan dunia, engkau justru banyak bertanya tentang Zat yang hampir terlupa oleh sebagian manusia. Engkau begitu antusias saat mas menjelaskan tentang Allah, Nabi, para sahabat, dan agama yang mulia ini, Islam. Engkau lebih memilih belajar bagaimana beribadah agar diridhoi Allah, ketimbang berkumpul, bersenang-senang dengan teman-temanmu. Engkau dengan kesederhanaanmu tidak pernah meremehkan, dan justru menghormati orang lain. Mas benar-benar bangga padamu, dan mas yakin orang lain pun bangga padamu, Allah pun bangga padamu. Mas yakin itu.
Ukhti tercinta,
Untuk melengkapi segala ketulusan itu, baiknya dibarengi dengan sesuatu yang akan menambah kekuatan iman. Bukankah itu juga merupakan kewajiban?! Sucikan hatimu, tetaplah berpegang teguh di jalan-Nya, sayangi orang-orang di sekitarmu. Mas titip mama dan papa ya, juga keluarga. Bimbing mereka untuk memilih jalan kehidupan yang benar, mas yakin kamu akan menjadi seorang daiyah yang luar biasa. Tetap istiqamah Ukhti. ^_^
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Kakandamu Tecinta (Aldi)

-ooOoo-

Rina telah siap dengan dandanannya kali ini, tepat setelah pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara Ibu Mirna. “Sayang, sudah siap? Ayo, kita harus segera berangkat!”

Rina pun langsung bergegas membuka pintu kamarnya, dan terlihatlah mimik keterkejutan dari paras Ibu tercinta.

“Ya Allah, subhanallah! Alhamdulillah! Ayo, papa, mbak Sari dan yang lainnya pasti akan takjub melihat perubahan penampilanmu!” ujar Ibu Mirna senang.

Kembali pujian kepada Allah yang terdengar dari lisan mereka setelah melihat penampilan Rina dengan balutan gamis biru dan jilbab senada pemberian Aldi. Ia begitu mempesona dengan penampilannya kali ini.

Setibanya di tempat yang di tuju, seluruh warga panti ikut takjub dengan penampilan baru Rina, namun Rina pun  ikut terkejut sekaligus senang mendengar apa yang diucapkan papanya.

“Imam, anakku kemarilah!” bentangan tangan pak Taufiq segera mengatup memegang punggung Imam yang kini telah ada dalam pelukannya.

'Ya Allah, pantas saja aku seperti melihat mas Aldi ketika melihat mas Imam, ternyata mereka adalah saudara kembar. Mas Imam hilang di rumah sakit, entah siapa yang mengambilnya dan meletakkannya di depan panti asuhan. Ya Rabb, begitu indahnya jalan kehidupanku, Engkau ambil mas Aldi hingga membuatku jauh dari-Mu, dan Engkau datangkan Mas Imam untuk mengembalikanku pada-Mu, Maha Besar Engkau atas segala yang terjadi di dunia ini.'

Ibu Mirna yang tak tahan lagi, menumpahkan tangisnya dalam pelukan Imam, begitupun Rina. Sari dan seluruh manusia yang melihat adegan mengharukan di sana pun tak luput dari tangis bahagia di malam pertama ramadhan. Rina yang menyaksikan itu berbisik di hatinya, 'Mbak Sari walau nangis tetap terlihat cantik, begitupun Mas Imam ketampanannya tidak hilang walau air mata membanjiri wajahnya, kenapa aku tidak menjodohkan mereka saja yah, hehehe...'

Dasar Rina, lagi pesta air mata, tetap saja pikiran usil mampir di pikirannya. Dasar anak muda! Sejak saat itu, panti asuhan hidayatullah menjadi tanggung jawab Pak taufiq. Jadilah malam pertama bulan ramadan Rina tanpa Aldi berganti bersama anak-anak panti dan tentu saja Imam, anak dan kakak yang hilang selama ini.
1 komentar

Cinta Bicara Terorisme


“Hai Ay!”

Hello Cin, are you okay?

I’m not okay! Kamu tahu Ay, Cinta benar-benar tak tahan lagi ingin bicara kasar, selama ini Cinta selalu berusaha untuk tidak menanggapi, cukup membawanya dalam doa tulus sepanjang masa, tapi, tidak kali ini, Cinta tidak bisa! Cinta harus bicara!”

Baru kali ini, Aya melihat betapa seriusnya Cinta, selama ini, gadis itu selalu datang dengan wajah cerianya, atau sesekali mimik sedihnya, namun saat ini, kalian tahu?! Cinta terlihat berbeda, perasaannya yang campur aduk itu, terlihat tajam, rasa marah, kejengkelan, sedih, sungguh tak mampu Aya ukir lebih dalam. Hanya mendengar dan mendengar apa yang ingin dicelotehkannya di masa ini.

“Sebentar lagi Ramadan, bulan yang teramat suci bagi umat Islam akan menghampiri, tapi, lihatlah, hal itu ternoda, amat ternoda dengan segala hal yang terjadi di Indonesia, Negara tercinta ini. Belum usai duka yang ditabur dari peristiwa rusuhnya Mako Brimob, kini rakyat Indonesia harus kembali berduka, amat berduka untuk hal yang telah lama menghantui, bom bunuh diri kembali terjadi, tiga gereja di Surabaya menjadi sasaran, muslim disinyalir ialah tersangka kejadian tak bertanggung jawab ini.”

“Duka Indonesia kembali hadir di tengah umat Islam akan segera merayakan bulan yang suci, pelaku bom bunuh diri yang dinamai teroris itu, yang diklaim sebagai muslim. Sungguh tidak pantas, mereka menyebut diri ialah ‘Muslim’, dan bom bunuh diri sebagai ‘jihad’. Tidak, sangat tidak pantas! Karena Muslim bukan Teroris dan Teroris bukanlah Muslim! Tidak tahukah mereka? Islam ialah agama rahmatan lil alamin, Islam ialah agama yang cinta damai, Islam menjunjung tinggi jihad sebagai jalan perjuangan menuju-Nya, namun jihad yang mereka lakukan, bukanlah jihad yang dimaksudkan dalam kalamullah. Bom bunuh diri yang menewaskan insan tak berdosa, insan yang bukanlah musuh sejati Islam, bukanlah jalan jihad yang sesungguhnya.”

“Baiklah, kata kasar itu harus keluar, siapapun dalang dari semua kejadian tak beradab ini, mereka bukanlah manusia, melainkan iblis berwujud manusia, karena hanya kaum iblislah yang tengah berjuang merusak umat manusia, iblislah yang begitu membenci kedamaian, iblislah yang amat senang bila melihat manusia bertikai. Tapi, harap mereka tahu, bahwa sia-sia apa yang mereka lakukan, umat manusia, masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia, bukanlah boneka kehidupan yang akan mampu mereka bodohi. Jika mereka bisa berpikir cerdas, seharusnya penyesalan tiada akhirlah yang akan tertimpa pada diri mereka, para teroris itu, kenapa? Karena, peristiwa bom bunuh diri, tidak akan mampu memecah belah umat manusia, justru sebaliknya, kerukunan beragama akan semakin menguat, tidak akan runtuh persahabatan antara muslim dan nonmuslim karena perbuatan keji mereka. Tidak akan!”

“Apapun upaya biadab yang mereka lakukan untuk memecah kedamaian, sungguh terkutuklah mereka itu. Tiadalah surga yang mereka impikan akan terhadiahi, tiadalah kehormatan diri akan menghiasi, justru hanya akan ada sumpah serakah untuk segala hal tak bertanggung jawab yang mereka lakukan, hanya ada doa orang teraniaya yang akan menghantarkan mereka pada laknatullah. Naudzubillah, astaghfirullah, semoga kedamaian tetaplah terpancar di hati, para korban mendapat pengampunan dan kasih-Nya, keluarga korban mampu berdamai dengan duka panjang mereka, dan hidayah mampu hadir dalam diri para teroris itu. Aamiin!”


#onedayonepost 
#odoperbicara 
#odoperbicaraterorisme 
#terorisbukanislam 
#islambukanteroris   
#islamrahmatanlilalamin 
#islamagamacintadamai 
#ramadandamai
 
;