4 komentar

Harapan Jati

pixabay.com

Di sebuah Hutan, terjadi percakapan cukup serius antara Pohon Jati dan Burung Elang yang selalu bertengger erat di dahannya yang mulai merapuh ditelan masa kehidupan.

“Beruntunglah engkau wahai Jati, kau masih bisa berdiri tegak menikmati kehidupan setelah begitu banyaknya teman-temanmu yang harus rela ditebang dan kehilangan jati diri mereka yang sebenarnya.” ucap Elang yang hari itu terlihat sendu.

“Bukannya justru dirimu yang beruntung bila aku masih hidup? Lihat saja, hampir setiap hari kamu berdiam di dahanku, padahal hidupku ini bisa saja juga akan menemui akhirnya. Sejujurnya, aku iri pada mereka, karena …”

“Apa? Iri? Yang benar saja, bagaimana bisa kau merasa iri pada teman-temanmu yang telah meregang nyawa?” sergah Elang memotong curhatan Jati.

“Ah, kamu ini Elang, dengarkan dulu ucapanku, jangan asal menyela begitu. Tahukah kamu? Bila kamu ingin didengar sekitarmu, maka kamu harus menjadi pendengar yang baik, bukannya hanya memperdengarkan celotehanmu yang seakan selalu menusuk itu!” jelas Jati menasehati Elang yang memang terkenal dengan kecerewetannya yang selalu mendatangkan duka mendalam. “Hei, Elang, kamu masih mendengarkanku bukan?”

“Iya. Aku mendengarkanmu Jati. Aku akan diam mendengarkan, jadi silahkan lanjutkan, apa maksudmu iri pada mereka yang malang itu?” sahut Elang yang mulai menunjukkan keseriusannya.
“Ah, ya. Aku iri pada mereka karena mereka bisa sangat bermanfaat bagi semesta. Mereka memang telah kehilangan jati diri, eh, sebenarnya … tidak juga. Mereka hanya tengah menikmati menjadi pribadi lain dan itu terlihat lebih baik. Kamu tahu Elang? Terkadang aku dan yang lainnya menangis serta berharap kami pun akan bisa memberikan yang terbaik untuk manusia. Kamu sendiri juga tahu, sejahat apapun manusia itu, pasti ada yang terbaik. Nah, untuk manusia terbaik itu, aku ingin bermanfaat bagi mereka.

“Seperti yang kamu ketahui Elang, hutan ini telah karam dan akan segera punah, jadi, untuk apa aku mempertahankan diri, berdiri di tengah keterpurukan yang akan menjelang? Akan lebih baik bila ada manusia yang berniat untuk merubahku menjadi benda yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup mereka. Lagipula, hanya buang-buang energi bila kita selalu mengelak dari apa yang sudah ditakdirkan bukan?

“Yah, kita semua tahu bagaimana sifat manusia, mereka makhluk serakah, mereka juga makhluk yang penuh ambisi. Jadi, untuk kami, pohon yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan manusia, hanya bisa memasrahkan diri untuk menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Beda denganmu Elang, kamu masih bisa berkelana dalam semesta ini, kamu bisa terbang bebas dan menikmati segala yang ada.

“Tapi, kami? Kami hanya bisa tumbuh dan menetap di satu tempat, akan sangat indah bila kami bisa menjadi tempat berteduh, namun, bila memang harus keluar dari hutan dan dipermak menjadi berbagai alat kebutuhan untuk digunakan manusia, kami hanya bisa berpasrah, karena itulah takdir kehidupan yang diberikan semesta. Lagipula, seperti yang sudah kukatakan di awal, hal itu masih lebih baik, daripada berdiam diri meratapi hidup yang kan segera punah ini.”

“Ah, bagaimana bisa sebatang pohon berpikir seperti itu? Terlalu mulianya dirimu wahai Jati.” batin Elang yang tengah mengusap air matanya yang tak sengaja menetes dan membasahi dahan. Lalu, dengan tegar menanggapi pengharapan Jati yang tak bisa diterimanya,

“Kau benar, hanya menunggu masa untukmu bernasib sama seperti teman-temanmu yang lainnya. Tapi, bukan berarti kau hanya harus berpasrah! Kata siapa kau hanya bisa tumbuh dengan bantuan manusia? Kata siapa kau hanya hidup agar bisa dimanfaatkan mereka? Semesta juga membutuhkanmu, kau tahu? Bila pohon-pohon tiada, hutan musnah, lalu bagaimana dengan kami, makhluk yang hanya bisa hidup di hutan? Bagaimana dengan alam yang akan semakin gersang dan semakin panas membakar?

“Bahkan manusia sendiri akan mengalami dampak negatif dari kepunahanmu, tiada hutan maka akan tiadalah penghidupan untuk mereka, bumi akan memanas dan itu artinya mereka, manusia akan ikut mengalami kepunahan dan segala yang mereka buat tiada lagi gunanya, mereka takkan bisa menikmatinya, karena semesta ini sepenuhnya gersang dan rusak dikarenkan tiadanya hutan yang menjadi akar penghidupan.” setelah mengatakan segala pemikiran dengan mata tajam penuh amarahnya, Elang terbang meninggalkan Pohon Jati yang terdiam sempurna.

“Elang benar, kenapa aku hanya memikirkan diri sendiri? Kalau kami tiada, hutan tiada, lalu bagaimana dengan semesta?” batin Jati tersadarkan. Namun, tiada guna, karena seperti yang telah diyakininya, segerombolan manusia dengan gergaji mesin besarnya memasuki hutan dan mulai menebang setiap pohon yang berdiri anggun. “Selamat tinggal Elang, selamat tinggal alamku yang mendamaikan, semoga kelak kan ada tunas baru yang mengisi kembali keindahan hutan.”

~End~
4 komentar

Angel dan Negeri Asap

pixabay.com

“Kami akan selalu ada untuk anda yang membutuhkan bantuan demi menjaga kelestarian alam, namun, kami juga berharap, anda semua dapat membantu kami mewujudkannya, bagi siapapun yang ingin bergabung, kami siap menerima bahkan amat sangat bersyukur. Karena dengan lebih banyak yang peduli pada lingkungan, maka diharapkan kerusakan alam akan berkurang, bahkan musnah berganti keindahan alam yang memukau semesta.”

“Wuah … itu ayah! Bundaaa … lihat, ayah masuk TV lagi. Ayah gagah sekali, Angel suka ayah, ayah kereeen.” seru Angel sambil mengacungkan jempolnya di depan televisi.

“Iya, ayah Angel memang kereeen banget. Nah, sekarang, Angel tidur ya….” jawab sang bunda dengan senyuman indahnya nan menyejukkan.

“Iya, Angel mau tidur kok, tapi, nanti ayah datang kan bunda? Angel mau ketemu ayah, Angel mau cerita buanyaaak sama ayah.” pertanyaan gadis mungil itu, dijawab anggukan oleh sang bunda yang mulai menidurkannya.

***
“Hai, gadis kecil bangunlah, bangun!” terdengar suara parau yang menggema dan berhasil membuat sang gadis mungil itu terbangun.

“Ada apa? Bukannya Angel baru tidur, kok udah dibangunkan? Eh, ini di mana? Angel di mana?” setelah sadar sepenuhnya, Angel berputar-putar untuk melihat sekelilingnya.

“Kau ada di hutan gadis kecil, tidak seharusnya kau berada di sini, kembalilah ke tempatmu.” kembali terdengar suara tua yang bergema penuh perhatian.

“Pohon, kamu? Bagaimana bisa pohon bicara? Apa Angel tengah bermimpi?” tanya Angel dengan mata berbinar terang.

“Benar, kamu sedang bermimpi, jadi bangunlah dan pergi dari sini!” kali ini burung elang yang bertengger pada si pohon yang bersuara.

“Iya, pergi sekarang juga, kalau tidak kau akan celaka gadis kecil!” sahutan para semut serentak terdengar.

“Wuah … ini keren, sangat keren! Bagaimana bisa? Tapi, kenapa Angel harus pergi? Hutan ini sangat indah, Angel ingin berlama-lama di sini.” ucap Angel dengan penuh antusias.

“Aneh, kamu tidak takut? Kami bicara padamu, itu hal yang tidak lumrah, seharusnya kamu menangis saat ini.” Si Pohon kembali memperdengarkan suara lembutnya yang bergema.

“Kenapa harus takut? Bukankah elang bilang Angel tengah bermimpi? Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan. Oh tidak, apa yang terjadi…” belum sempat Angel melanjutkan ocehannya, asap mulai merebak dan mulai mendekati mereka, Angel pun terbatuk keras karenanya.

“Sudah kami bilang bukan? Sangat berbahaya untukmu berada di sini. Sekarang kau harus merasakan apa yang telah dilakukan manusia pada hutan yang seharusnya mereka lindungi. Begitu banyak hewan yang harus kehilangan tempat tinggal mereka, berapa banyak pohon yang musnah tanpa dapat menikmati kehidupan yang mewah. Semua kesenangan hidup itu hancur karena ulah manusia yang tidak bertanggungjawab, mereka menebang pohon, membakar hutan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.

Karena itu, pergilah wahai gadis kecil, biarkan kami musnah sendiri, kamu harus menyelamatkan diri dan membantu teman-teman kami yang masih bisa dilestarikan, beritahukan pada dunia manusia bahwa kami juga butuh kehidupan yang damai, kami juga bisa sangat bermanfaat untuk mereka, tanpa mereka harus merusak alam. Sampaikanlah itu pada dunia, wahai Angel. Kembalilah sekarang….

***  
“Angel sayang, bangun nak, apa yang terjadi? Ada yang sakitkah? Ini, minumlah.” terdengar suara sang bunda penuh kekhawatiran melihat anak gadisnya tak henti terbatuk.

“Bunda, ayah mana? Angel harus bicara sama ayah, sekarang. Sekarang … Angel….” belum sempat gadis berumur delapan tahun itu melanjutkan ucapannya, matanya kembali menutup dan sayup-sayup terdengar olehnya suara tangis bunda yang meratap penuh duka menyebut namanya.

~End~
6 komentar

Rindu Asa Puisi


Kertas putih itu masih saja polos,
Terbaring tanpa setitik tinta terpoles.
Adakah kini Ia tengah berduka?
Atau justru amatlah bersuka cita?
Tiada coretan menghampiri jiwanya.

Berbulan-bulan Ia mematung.
Tanpa tersentuh aksara nyata.
Tiadakah rindu terpasung?
Kata indah penuh puja puji raga,
Yang dulu selalu mewarnai jiwanya.

Duri, 01 September 2018
-nurhidayatunnisa-


#30daysSeptemberToRemember
#onedayonepost
5 komentar

Cerpen Fabel Satire ala Oscar Wilde


“Ay, ada apa? Kamu nangis?” Terdengar suara Cinta saat memasuki kamar Aya.

“Cinta? Loh, kamu … ngapain malam-malam ke sini?”

“Aduh, ditanya malah balik nanya! Bukannya kemarin Cinta udah bilang mau nginep? Sekarang, jawab, kenapa tuh mata sampai merah gitu? Ingat dosa ya?”

“Iya. Dosa Aya numpuk nih sampai nembus langit! Oh, Allahu.”

“Lah, apa bedanya sama Cinta coba? Udah, jujur aja ada apaan sih?!” kembali Cinta bertanya, sambil berbaring di sebelah Aya.

“Hmmm… sebenarnya Aya lagi nulis ringkasan kisah fabel satire yang ditulis oleh Oscar Wilde, judulnya itu The Happy Prince and Other Tales. Menurut Aya kumcernya ini wajib banget dibaca oleh semua kalangan, karena begitu banyak ibroh yang bisa diambil dari setiap kisahnya. Dan kenapa Aya bilang satire?  Karena memang demikianlah adanya, begitu banyak sindiran sebenarnya bagi kita yang membaca, mengingatkan betapa masih banyak hal keliru yang kita tafsirkan, begitu banyak hal tak jujur yang dilakukan. Intinya, kumcer ini benar-benar luar biasa.”

“Hmmm… bahasa Inggris ya, untuk tugas RCO itu kan? Oh iya, hari ini terakhir kan ya? Ya udah, sambil ngetik kamu bisa ceritakan tentang buku keren itu ya, karena Cinta nggak akan membacanya walau kamu paksa, kamu kan tahu sendiri Ay, Cinta nggak suka baca, lebih suka dibacain”

What? Kalau gitu caranya nggak kelar dong tugasnya, mana hari ini Aya juga belum ada baca, tahu!”

“Ya ampun, biasanya juga gitu, nggak usah manja deh, buruan, Cinta penasaran banget nih, pengen tahu ceritanya!”

Ampun dah yo nih anak, udah minta tolong maksa lagi! Sabar Ay, sabar!

“Mending tidur deh, ntar nggak bangun sahur lagi!”

“Iya, ini dengerinnya sambil tidur Ay, buruan gih, palli!

“Aish … maksa banget sih, ya udah, tak ceritain deh, denger yo, beneran, awas loh kalo sampe tidur! Jadi, buku The Happy Prince and Other Tales karya Oscar Wilde ini adalah kumpulan cerpen, ada tujuh kisah dalam satu buku menarik ini. Kisah pertama, tentunya ialah tentang The Happy Prince (Pangeran Bahagia), tapi kamu tahu Cin?! Pangeran bahagia ini sejatinya tidaklah berbahagia. Pangeran Bahagia dalam kisah ini ialah sebuah patung yang bertengger indah di tengah kota Eropa yang indah, batu-batu permata menghiasi seluruh tubuhnya, dua batu safir yang berkilauan sebagai matanya, helai-helai dedaunan yang terbuat dari emas menutupi tubuhnya, dan sebuah batu rubi yang bersinar di pangkal pedangnya. 

"Karena posisinya yang berada di atas ketinggian yang menjulang, membuatnya mampu melihat ke seluruh penjuru kota, dan melihat segala kehidupan yang terjadi di sekelilingnya, melihat betapa kesenjangan kehidupan itu nyata adanya, dan lewat burung Walet yang hinggap sebentar di pundaknya, Ia mulai membagikan seluruh yang Ia punya dalam dirinya untuk membantu orang-orang tak berdaya, burung Walet yang sebenarnya ingin bepergian ke Mesir pun tertahan oleh kebaikan hati Pangeran Bahagia dan membantu mewujudkan permintaan sang Patung mulia itu. 

"Namun, kamu tahu Cinta, akhir teramat sedih untuk keduanya dilewati karena ketamakan manusia yang sok berkuasa. Tidak, aku tidak akan menyebutkan apa itu, kamu bisa mencari tau dengan membacanya, walau sungguh, hanya Tuhan-lah yang Maha Adil di atas dunia ini yang mampu memberikan balasan yang pantas untuk kebaikan keduanya.

"Kisah kedua ialah The Nightingale and The Rose (Burung Bulbul dan Bunga Mawar) sungguh, kisah kedua ini, juga amat menusuk hati, oh, manusia, entah apa yang menyebabkan kalian begitu sombongnya, kamu tahu Cin, kali ini, cerpen kedua berkisah tentang seorang Pelajar yang jatuh cinta, namun gadis yang disukai hanya menyukai mawar merah, padahal dirinya tak memiliki itu, jadilah, burung Bulbul yang mendengar kisah sedih si Pelajar terenyuh hatinya, sembari mendendangkan lagu dan memulai pencariannya untuk setangkai mawar merah, dan pengorbanan yang amat menyakitkan harus dilampauinya untuk membantu si Pelajar, padahal tentu saja, siapalah Ia yang seorang hewan yang takkan berarti apapun bantuannya untuk manusia yang takkan pernah tau apa itu makna dari sebuah perjuangan.

“Cerpen ketiga berjudul The selfish Giant (Raksasa yang Egois), diceritakan bahwa ada Raksasa yang  memiliki taman yang indah, namun Ia tak mengizinkan anak-anak bermain di sana, karena keegoisannya musim semi tak menghampiri kebunnya, dan penyesalanpun tiba, tatkala melihat beberapa anak-anak bermain di sebuah pohon, dan terdapat seorang anak kecil yang kesulitan menggapai pohon besar di hadapannya dan membuatnya menangis karena hal itu. Melihat itu, tersentuh hati Sang Raksasa, Ia akhirnya membiarkan taman terbuka dan mulai dijadikan tempat bermain bagi anak-anak, dan kebunnya pun kembali indah. Namun, hal yang menjadi misteri bagi Si Raksasa ialah setelah hari pertama dibukanya taman untuk anak-anak, seorang anak yang berhasil meruntuhkan keegoisannnya kala itu tak lagi datang.

“Keempat, kisah ini tentang The Devoted Friend (Teman yang Setia/Sejati), satu lagi kisah yang menyayat hati tentang sebuah pengorbanan seorang teman. Dikisahkan oleh seekor Tikus Air Tua dan teman-teman hewannya mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans memiliki “teman sejati” bernama Miller, sungguh membaca kisah ini membuat Aya amat simpati pada kepolosan hati Hans, dan membuat Aya amat jengkelnya pada si Tuan Kaya Miller yang hingga akhir masih saja menganggap dirinya ialah “teman sejati” Hans kecil, padahal tiada kejujuran dari setiap kebaikan yang diberikannya, selain hanya menginginkan imbalan yang setimpal.

“Cerpen fabel kelima ialah The Remarkable Rocket (Roket yang Luar Biasa), mengisahkan sebuah kerajaan yang tengah berpesta untuk pernikahan sang Pangeran dengan seorang putri cantik. Segala macam kembang api berlomba memeriahkan pesta, mulai dari yang mungil hingga yang besar, dan akhirnya memperlihatkan sang Roket yang Luar Biasa yang mengoceh tak karuan, akibat ocehannya yang berkepanjangan tentang betapa penting dan hebat dirinya, membuat sang Roket justru tak dapat menunjukkan keluarbiasaanya itu akibat ulahnya sendiri yang begitu sombong tak terelakkan dan hanya menjadi kesia-siaan belaka.

“Cerpen keenam berjudul The Sphinx Without a Secret, mengisahkan seorang Gerald yang jatuh cinta pada seorang wanita misterius bernama Lady Alroy, Gerald yang tengah memperjuangakan cinta, sering berkirim surat pada Lady Alroy, dan akhirnya karena kemisteriusan wanita itu, membuatnya pergi selama sebulan, dan sekembalinya Gerald, Ia tak dapat menemui  wanita itu lagi, karena ternyata Lady Alroy mengidap penyakit paru-paru dan akhirnya meninggal dunia membawa dunia fantasi yang diukirnya.

“Dan cerpen terakhir yaitu The Birthday of The Infanta. Infanta adalah seorang Putri raja Spanyol, di ulang tahunnya yang begitu meriah, segenap rakyat dan semua bunga, tanaman, dan pohon di taman istana ikut memeriahkan acara. Dan seorang anak kecil yang dipanggil untuk melakukan pertunjukan, Ia menari disertai keriuhan rakyat yang menontonnya, bahkan sang Putri raja memberikan mawar putih untuknya, yang membuatnya berpikir bahwa sang putri menyukainya. Singkat cerita, anak kecil itu kembali ke istana, dan sadarlah Ia siapa dirinya sebenarnya, tatkala melihat bayangan diri yang bak monster menakutkan dan mulai menyadari bahwa keriuhan yang didapat sebenarnya bukan karena sebuah kekaguman namun justru menertawakannya. Menyadari hal itu, membuat dirinya jatuh, dan perlahan jantungnya berhenti berdetak.

“Sungguh, tujuh cerpen yang mampu mengoyak hati ini, dan membuat Aya tak henti merenungi diri, telahkah diri ini menjadi manusia seutuhnya, sudahkah cinta tulus itu diberikan pada sesama, ah… manusia! Wuah … udah larut aja ya Cin, alamat nggak tidur nih!”

Dan kamu tahu, sesuai dugaan, Cinta udah tertidur dengan nyamannya, aish… dasar, selalu saja… eh, kok rasa dejavu ya?! Ah, sudahlah!

#TugasRCO 
#Tugas2Level4 
#OneDayOnePost 
 
;