Minggu, 25 Februari 2018

For You Shalihah

Halo semuanya, apa kabar di hari ahad yang ... Panas banget sih kalo di tempat Aya,  kamu gimana? Oh iya, hari ini kita nggak bakal denger Cinta berseloteh ria ya, karena kebetulan tadi ada acara bazar, jadi pastinya tepar deh tuh anak. Aya juga sih juga sebenarnya, lelah hayati, tapi, berhubung nih pikiran udah minta buat disetor, jadi ya, udahlah, mengalah dulu.

Udah lama juga Aya nggak ada ngasih wejangan gituh ya? Ngomong Apelah budak nih? Yah, itu semua dikarenakan, Aya sendiri juga ilmunya masih cetek banget alias masih fakir ilmu sangat ini, makanya nggak ada nulis hal manfaat gitu, sadar juga dia! Jadi, kali ini izinkan Aya untuk memperkenalkan salah satu buku bunda Asma Nadia yaitu Salon Kepribadian. Jangan Jadi Muslimah Nyebelin

Kenape pula' milih buku tuh? Mungkin ada yang bertanya kenapa? Sebenarnya sih, karena buku ini tuh amat penting dimiliki seorang muslimah sebagaimana dipaparkan di cover belakang buku berikut ini :


Salon kepribadian buat muslimah, memangnya perlu?
Bukannya muslimah apalagi jika sudah berkerudung, identik dengan pribadi anggun yang menebar sejuk pada sekitar?
Hmm, meski seharusnya hanya menjadi sumber kebaikan, lihat kiri kanan deh, atau tatap bayangan di cermin. Jangan-jangan muslimah nyebelin yang butuh direhab itu kita sendiri? Mulai dari menjadi sumber aroma tidak sedap karena bau badan, selalu ngeluh sampai teman yang dengar lama-lama pingin menjitaki ; atau kebiasaan asal komen, "Kok kamu gendutan sih? Iteman sih? Jerawatan sih?"
Bahkan saat menjalankan ibadah pun, ternyata muslimah bisa kena label nyebelin. Contohnya muslimah yang berdoa panjang atau sibuk make up di karpet mushola, sementara antrean penuh. Asal menaruh kaus kaki ketika sholat hingga jamaah di belakangnya kebauan, dan lain-lain.
Dengan segudang alasan itu, Salon Kepribadian hadir, untuk membantu mengoreksi kebiasaan sepele, namun ternyata membuat tidak nyaman sekitar. Semoga menjadi kado cinta bagi muslimah mana saja : keluarga, sahabat, juga (calon) istri😊

Sabtu, 24 Februari 2018

Memuja-Nya

Malam,
Jiwa-jiwa tengah bersiap bersama hati,
Raga pun begitu gagah di hadapan cermin,
Berharap cinta masih setia di hati,
Bersama waktu yang kian tergantikan,
'Tuk kembali memuja Sang Pemilik Cinta yang Abadi.


Duri, Sabtu malam penuh cinta.
-nurhidayatunnisa-

#onedayonepost
#ODOPbatch5

Jumat, 23 Februari 2018

Cemburu Juga Rindu

"I enjoy my own life" kau bilang,
Entah kau jujur memang,
Hanya kau tahu benar,
Dan tentu DIA yang Maha Benar.

Terlalu nikmat kau hidup sendiri,
Hingga lupa kau butuh sandaran hati.
Saat pertanyaan mulai melangit tinggi,
Barulah kau sadar hidup tak bisa sendiri.


Lalu, tiba kau datang, 
"Aku cemburu ... Juga rindu" curhatmu,
"Pada dia yang temu pandang" lanjutmu,
"Merajut kisah bersama Sang Maha Pengasih lagi Penyayang"

Duri, 23 Februari 2018
-nurhidayatunnisa-


#onedayonepost
"ODOPbatch5

Lukisan Kisah Kita

Menunggu, menunggu dan terus menunggu, itulah yang kini harus kami hadapi. Di ujung perkuliahan yang segera menghampiri akhirnya, memberikan kami banyak pencerahan, terutama betapa semakin tak menyenangkannya hal yang dinamakan “menunggu” itu.

Tiga tahun lebih kami telah mengikuti materi demi materi, namun hal itu baru bernilai adanya dengan satu Tugas Akhir yang harus kami selesaikan dan pertanggungjawabkan di ujian akhir nantinya.

“Gimana Na, udah?” Tanya Dinda padaku yang masih harus bersabar menunggu keputusan atas proposal TA. (Tugas Akhir) yang kubuat.

“Belum Nda, kata Pak Ali, masih belum ada jawaban dari Bu Fiqra! Yah, masih harus terus bersabar nih, Nda udah mulai konsul dengan PA?” Tanyaku balik pada sahabat yang telah lebih dahulu melalui proses panjang yang akhirnya hanya tinggal berkonsultasi dengan PA. (Pembimbing Akademis).

“Ya Say, sabar aja ya! Ah ya, Alhamdulillah, PA-ku dosen super sibuk, jadi beliau minta aku selesaikan semuanya dulu, dari awal hingga akhir, jadi penilaiannya nanti sekalian aja.” Sedikit senyum dan kembali terlihat kerutan lelah di kening Dinda. Semangat Sobat!

࿒࿒⋝
Hari demi hari, minggu demi minggu, kulewati tanpa bosan untuk selalu mondar-mandir ke kampus, proposalku belum juga terlihat wujudnya di meja Pak Ali, sementara teman-teman, alhamdulillah hanya tinggal menyelesaikan TA. mereka dengan bimbingan PA. masing-masing.

Aku tak dapat lagi hanya sekedar menunggu tanpa berbuat apapun, langkah kaki kuarahkan menuju  ruangan Bu Fiqra yang terletak di lantai 2, yang ternyata beliau sedang rapat di ruangan Dekan, jadilah aku kembali menunggu sambil terus membaca Al-Qur'an di Mushalla, yang bangunannya berada di lantai 3 Fakultas.

“Apa sih yang dirapatkan? Dari pagi sampai udah sore gini, belum juga kelar rapatnya?” terdengar gerutuan dari kak Lita yang ingin menemui salah satu dosen yang hari ini ikut rapat dengan Dekan, aku juga heran sih, seharian di Mushalla dan sesekali turun menuju lantai 2 terlihat olehku betapa penuhnya ruangan Dekan yang entah apa yang dibicarakan para petinggi Fakultas tersebut.

“Selamat Sore Ibu!” Salamku memasuki ruangan Bu Fiqra, setelah beliau selesai dengan rapatnya.

“Sore, silahkan duduk!” Sambut Bu Fiqra.

“Saya ingin menanyakan tentang proposal saya Bu, sudah ada sebulan lebih menunggu, tapi kata Pak Ali, proposalnya masih sama Ibu.” Cukup terkejut juga Bu Fiqra mendengar ocehanku.

“Benarkah itu Nak? Kalau begitu coba cari dalam brankas Ibu!”

Benar saja, ternyata proposalku yang telah lengkap dengan tanda tangan PA. yang akan menjadi pembimbingku terletak di posisi paling bawah.

“Alhamdulillah, ketemu! Terimakasih Bu!” Syukurku akhirnya, buah dari kesabaran menunggu. Alhamdulillah.

“Syukurlah, maaf ya Ibu teledor, sampai kamu harus menunggu lama, silahkan proposalnya dibawa dan temui Pak Ali terlebih dahulu.”

Puji syukur padamu ya Rabb, akhirnya tiba juga saatku untuk melewati hari seperti yang dialami sahabat-sahabatku.

࿒࿒⋝
“Na, ayo buruan udah sore nih, ntar Pak Dewa pulang lagi!?” seruan Fiandra, yang setia menunggui diri menyelesaikan TA. yang ketiga kalinya harus kuperbaiki atas arahan Pak Dewa, PA-ku.

“Alhamdulillah selesai, Yuk Ra!” Bismillah, semoga ini yang terakhir. Aamiin.

“Selamat Sore Pak!” Salamku pada Pak Dewa saat kami bertemu di depan ruangannya.

“Sore Ana, ayo masuk!” Sambut Pak Dewa, sambil terus melangkahkan kaki memasuki ruangan menuju meja beliau.

Telah banyak masa terlewati, hingga pada saatnya senyum Pak Dewa menyadarkanku dari lamunan panjang atas segala pemikiran yang hadir dibenak.

“Baiklah, selamat mengikuti ujian terakhir Ana, semoga sukses!”

Setelah beberapa kali mengucap syukur dan berterima kasih pada Pak Dewa, aku keluar dan langsung memeluk Fiandra yang akhirnya tertawa puas dengan celotehannya yang membuatku ikut tertawa bahagia.

“Alhamdulillah, akhirnya kelar juga urusanmu Na! Tau nggak? Ra diluar nih tegang nungguinnya, kayak nungguin orang mau lahiran aja rasanya.” Hahaha … Fiandra bisa aja ya! Ya Allah telah berapa lama ya, tawa ini meredup dan akhirnya kini kembali lagi!


Selama kehidupan dunia masih harus engkau jalani, maka permasalahannya pun akan selalu menjadi gambaran untuk engkau lukiskan seindah mungkin di akhirnya. Seperti saat ini, selesai dengan perjuangan panjang atas penyelesaian TA, kami masih harus mengikuti ujian terakhir untuk gelar kemahasiswaan yang akan segera luntur, berganti gelar yang menempel di nama kami.

Tentu semua yang kami lakukan bukanlah hanya semata untuk gelar, tapi lebih kepada pengabdian dalam kehidupan, dan menuju kehidupan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, kehidupan sebagai mahasiswa harus dengan ikhlas kami lepaskan, setidaknya untuk masa ini. Bertahun-tahun bersama dalam permasalahan kemahasiswaan, kini kami kembali dipersatukan didampingi keluarga tercinta,  untuk menjalani hari penobatan atas kelulusan.

࿒࿒࿒
Siapa sangka kebahagiaan saat disahkannya TA. oleh PA, dinyatakan lulus di ujian terakhir, dan melalui hari penobatan yang sangat mengharukan, merupakan awal kembalinya permasalahan yang harus kami jalani.

Panjangnya proses menuju pengesahan TA. yang menguras kesabaran, ketegangan saat mengikuti ujian terakhir, masih harus kami rasakan indahnya saat menyadari, bahwa kami masih harus terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

"Dinda harus terus berjuang, Ana yakin kok, suatu saat Dinda pasti akan menemukan jalan yang terbaik untuk Dinda, keep Fighting Cin! Pesan balasanku atas keluhan Dinda yang menyatakan kebosanan karena hingga sudah menuju hampir setahun setelah gelar tertancap pada nama kami, gadis manis ini belum juga dianugerahkan pekerjaan untuk dijalaninya.

“Ternyata semua yang kita impikan dulunya nggak semudah kenyataannya ya Say?" Fiandra, gadis yang dulunya paling cantik di fakultas, kini mengabdikan diri menjadi guru di salah satu kota di Indonesia, ikut mengirimiku pesan di hari penuh kenangan itu.

“Iya Ra, yang penting sekarang kita jalani aja kehidupan yang udah dianugerahkan ini dengan sebaik mungkin. Keep spirit and smile Cin!” Tak bosan-bosannya aku memberikan balasan yang memotivasi teman-temanku yang sedang “andilautak keruan itu.

“Assalamu’alaikum, apa kabar Buk?” Kembali gawaiku bergetar memperlihatkan pesan, kali ini dari Reno, yang memilih menjadi pengusaha counter pulsa di kotanya. 

“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah Pak, moga usahamu lancar dan sukses selalu ya!” Dulunya saat kami kuliah, aku dan Reno menjadi rekan bisnis di kampus.

“Buk, ada saran nggak, aku lagi andilau stadium tingkat akhir nih? Udah ujung usia sejak kita lulus, masih bingung juga nentuin kerjaan?” Pesan Akbar masuk setelah baru kubalas pesannya Reno.

“Bro, saran Na gak jauh-jauh kok, kita semua tahu kalau kamu itu paling ahli soal kerajinan tangan yang oke punya, coba aja usaha hand made di rumah, moga aja sukses, try and do it Bro!”

Pada akhirnya, hari penuh getaran itu tiba pada akhir pesan yang sama dikirim padaku oleh para sahabat tercinta, “Na sibuk apa sekarang?” berhubung isi yang di kirim sama, maka balasannya pun sama.

“Ana ... Lagi sibuk melukis kisah kita!”

#onedayonepost
#ODOPbatch5