Cerpen Fabel Satire ala Oscar Wilde


“Ay, ada apa? Kamu nangis?” Terdengar suara Cinta saat memasuki kamar Aya.

“Cinta? Loh, kamu … ngapain malam-malam ke sini?”

“Aduh, ditanya malah balik nanya! Bukannya kemarin Cinta udah bilang mau nginep? Sekarang, jawab, kenapa tuh mata sampai merah gitu? Ingat dosa ya?”

“Iya. Dosa Aya numpuk nih sampai nembus langit! Oh, Allahu.”

“Lah, apa bedanya sama Cinta coba? Udah, jujur aja ada apaan sih?!” kembali Cinta bertanya, sambil berbaring di sebelah Aya.

“Hmmm… sebenarnya Aya lagi nulis ringkasan kisah fabel satire yang ditulis oleh Oscar Wilde, judulnya itu The Happy Prince and Other Tales. Menurut Aya kumcernya ini wajib banget dibaca oleh semua kalangan, karena begitu banyak ibroh yang bisa diambil dari setiap kisahnya. Dan kenapa Aya bilang satire?  Karena memang demikianlah adanya, begitu banyak sindiran sebenarnya bagi kita yang membaca, mengingatkan betapa masih banyak hal keliru yang kita tafsirkan, begitu banyak hal tak jujur yang dilakukan. Intinya, kumcer ini benar-benar luar biasa.”

“Hmmm… bahasa Inggris ya, untuk tugas RCO itu kan? Oh iya, hari ini terakhir kan ya? Ya udah, sambil ngetik kamu bisa ceritakan tentang buku keren itu ya, karena Cinta nggak akan membacanya walau kamu paksa, kamu kan tahu sendiri Ay, Cinta nggak suka baca, lebih suka dibacain”

What? Kalau gitu caranya nggak kelar dong tugasnya, mana hari ini Aya juga belum ada baca, tahu!”

“Ya ampun, biasanya juga gitu, nggak usah manja deh, buruan, Cinta penasaran banget nih, pengen tahu ceritanya!”

Ampun dah yo nih anak, udah minta tolong maksa lagi! Sabar Ay, sabar!

“Mending tidur deh, ntar nggak bangun sahur lagi!”

“Iya, ini dengerinnya sambil tidur Ay, buruan gih, palli!

“Aish … maksa banget sih, ya udah, tak ceritain deh, denger yo, beneran, awas loh kalo sampe tidur! Jadi, buku The Happy Prince and Other Tales karya Oscar Wilde ini adalah kumpulan cerpen, ada tujuh kisah dalam satu buku menarik ini. Kisah pertama, tentunya ialah tentang The Happy Prince (Pangeran Bahagia), tapi kamu tahu Cin?! Pangeran bahagia ini sejatinya tidaklah berbahagia. Pangeran Bahagia dalam kisah ini ialah sebuah patung yang bertengger indah di tengah kota Eropa yang indah, batu-batu permata menghiasi seluruh tubuhnya, dua batu safir yang berkilauan sebagai matanya, helai-helai dedaunan yang terbuat dari emas menutupi tubuhnya, dan sebuah batu rubi yang bersinar di pangkal pedangnya. 

"Karena posisinya yang berada di atas ketinggian yang menjulang, membuatnya mampu melihat ke seluruh penjuru kota, dan melihat segala kehidupan yang terjadi di sekelilingnya, melihat betapa kesenjangan kehidupan itu nyata adanya, dan lewat burung Walet yang hinggap sebentar di pundaknya, Ia mulai membagikan seluruh yang Ia punya dalam dirinya untuk membantu orang-orang tak berdaya, burung Walet yang sebenarnya ingin bepergian ke Mesir pun tertahan oleh kebaikan hati Pangeran Bahagia dan membantu mewujudkan permintaan sang Patung mulia itu. 

"Namun, kamu tahu Cinta, akhir teramat sedih untuk keduanya dilewati karena ketamakan manusia yang sok berkuasa. Tidak, aku tidak akan menyebutkan apa itu, kamu bisa mencari tau dengan membacanya, walau sungguh, hanya Tuhan-lah yang Maha Adil di atas dunia ini yang mampu memberikan balasan yang pantas untuk kebaikan keduanya.

"Kisah kedua ialah The Nightingale and The Rose (Burung Bulbul dan Bunga Mawar) sungguh, kisah kedua ini, juga amat menusuk hati, oh, manusia, entah apa yang menyebabkan kalian begitu sombongnya, kamu tahu Cin, kali ini, cerpen kedua berkisah tentang seorang Pelajar yang jatuh cinta, namun gadis yang disukai hanya menyukai mawar merah, padahal dirinya tak memiliki itu, jadilah, burung Bulbul yang mendengar kisah sedih si Pelajar terenyuh hatinya, sembari mendendangkan lagu dan memulai pencariannya untuk setangkai mawar merah, dan pengorbanan yang amat menyakitkan harus dilampauinya untuk membantu si Pelajar, padahal tentu saja, siapalah Ia yang seorang hewan yang takkan berarti apapun bantuannya untuk manusia yang takkan pernah tau apa itu makna dari sebuah perjuangan.

“Cerpen ketiga berjudul The selfish Giant (Raksasa yang Egois), diceritakan bahwa ada Raksasa yang  memiliki taman yang indah, namun Ia tak mengizinkan anak-anak bermain di sana, karena keegoisannya musim semi tak menghampiri kebunnya, dan penyesalanpun tiba, tatkala melihat beberapa anak-anak bermain di sebuah pohon, dan terdapat seorang anak kecil yang kesulitan menggapai pohon besar di hadapannya dan membuatnya menangis karena hal itu. Melihat itu, tersentuh hati Sang Raksasa, Ia akhirnya membiarkan taman terbuka dan mulai dijadikan tempat bermain bagi anak-anak, dan kebunnya pun kembali indah. Namun, hal yang menjadi misteri bagi Si Raksasa ialah setelah hari pertama dibukanya taman untuk anak-anak, seorang anak yang berhasil meruntuhkan keegoisannnya kala itu tak lagi datang.

“Keempat, kisah ini tentang The Devoted Friend (Teman yang Setia/Sejati), satu lagi kisah yang menyayat hati tentang sebuah pengorbanan seorang teman. Dikisahkan oleh seekor Tikus Air Tua dan teman-teman hewannya mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans memiliki “teman sejati” bernama Miller, sungguh membaca kisah ini membuat Aya amat simpati pada kepolosan hati Hans, dan membuat Aya amat jengkelnya pada si Tuan Kaya Miller yang hingga akhir masih saja menganggap dirinya ialah “teman sejati” Hans kecil, padahal tiada kejujuran dari setiap kebaikan yang diberikannya, selain hanya menginginkan imbalan yang setimpal.

“Cerpen fabel kelima ialah The Remarkable Rocket (Roket yang Luar Biasa), mengisahkan sebuah kerajaan yang tengah berpesta untuk pernikahan sang Pangeran dengan seorang putri cantik. Segala macam kembang api berlomba memeriahkan pesta, mulai dari yang mungil hingga yang besar, dan akhirnya memperlihatkan sang Roket yang Luar Biasa yang mengoceh tak karuan, akibat ocehannya yang berkepanjangan tentang betapa penting dan hebat dirinya, membuat sang Roket justru tak dapat menunjukkan keluarbiasaanya itu akibat ulahnya sendiri yang begitu sombong tak terelakkan dan hanya menjadi kesia-siaan belaka.

“Cerpen keenam berjudul The Sphinx Without a Secret, mengisahkan seorang Gerald yang jatuh cinta pada seorang wanita misterius bernama Lady Alroy, Gerald yang tengah memperjuangakan cinta, sering berkirim surat pada Lady Alroy, dan akhirnya karena kemisteriusan wanita itu, membuatnya pergi selama sebulan, dan sekembalinya Gerald, Ia tak dapat menemui  wanita itu lagi, karena ternyata Lady Alroy mengidap penyakit paru-paru dan akhirnya meninggal dunia membawa dunia fantasi yang diukirnya.

“Dan cerpen terakhir yaitu The Birthday of The Infanta. Infanta adalah seorang Putri raja Spanyol, di ulang tahunnya yang begitu meriah, segenap rakyat dan semua bunga, tanaman, dan pohon di taman istana ikut memeriahkan acara. Dan seorang anak kecil yang dipanggil untuk melakukan pertunjukan, Ia menari disertai keriuhan rakyat yang menontonnya, bahkan sang Putri raja memberikan mawar putih untuknya, yang membuatnya berpikir bahwa sang putri menyukainya. Singkat cerita, anak kecil itu kembali ke istana, dan sadarlah Ia siapa dirinya sebenarnya, tatkala melihat bayangan diri yang bak monster menakutkan dan mulai menyadari bahwa keriuhan yang didapat sebenarnya bukan karena sebuah kekaguman namun justru menertawakannya. Menyadari hal itu, membuat dirinya jatuh, dan perlahan jantungnya berhenti berdetak.

“Sungguh, tujuh cerpen yang mampu mengoyak hati ini, dan membuat Aya tak henti merenungi diri, telahkah diri ini menjadi manusia seutuhnya, sudahkah cinta tulus itu diberikan pada sesama, ah… manusia! Wuah … udah larut aja ya Cin, alamat nggak tidur nih!”

Dan kamu tahu, sesuai dugaan, Cinta udah tertidur dengan nyamannya, aish… dasar, selalu saja… eh, kok rasa dejavu ya?! Ah, sudahlah!

#TugasRCO 
#Tugas2Level4 
#OneDayOnePost 

5 komentar:

Amelia Putri mengatakan...

Jadi kepengen bacaa:(

Amelia Putri mengatakan...

Jadi kepengen bacaa:(

alif kiky mengatakan...

Cerpennya menarik nih. Bukunya ada di ipusnas gak ya mbak? 😁

Isnania mengatakan...

Ayo Mel, dibaca ^_^

Isnania mengatakan...

Ada banget Mbak Kiky ^_^

Posting Komentar

 
;