Rahasia Kehidupan Rina



Sumber Gambar : google.com

“Rina, kamu di mana sayang? Sini bentar deh mama mau bicara!” seru Ibu Mirna memanggil anak gadis semata wayangnya lembut.

“Iya Ma, bentar!” sahut Rina dari dalam kamarnya.

“Ada apa sih Ma, kok kayaknya serius banget?” tanyanya saat telah duduk berdampingan dengan mamanya.

Sambil mengelus kepala Rina dengan sayang, bu Mirna berkata, “Enggak sabaran banget, kenapa? Ayo ... ngapain di kamar?!” godanya dan disambut cemberut oleh Rina, melihat itu mamanya makin gemes dan akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya berat ingin disampaikannya.

“Rina sayang kan sama Mama?” 'duh Allah, hamba tidak tega meninggalkannya.'

“Ma, Rina sayang banget sama mama, nggak ada yang lain di hati Rina selain mama dan papa! Tapi, tolong Ma, cerita sama Rina, ada apa sih? Mama ada masalah ya? Walaupun Rina masih terlihat seperti anak kecil, tapi Rina akan berusaha bersikap dewasa. Mama percaya deh sama Rina! Nggak usah takut, mudah-mudahan Rina bisa bantu permasalahan Mama?!” ucap Rina meyakinkan mamanya tercinta.

“Iya sayang, Mama bangga padamu, kamu bisa lebih dewasa dari umurmu. Baiklah! Begini, Mama dan papa  akan pergi keluar kota, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan dan mungkin juga keluar negeri. Jadi…”

“Oo … itu toh! Tenang aja Ma, Rina udah gede, Rina bisa kok tinggal sendiri, lagian kan ada pak Maman, mbak Sum dan mas Karyo yang nemani dan bantuin Rina. Itukan udah tugas mama dan papa, lagian harusnya Rina berterima kasih dan malu. Karena Rina, mama dan papa rela ngelakuin rutinitas yang seabrek gini, Rina bangga pada mama dan papa!” ucap Rina memotong perkataan Ibundanya dan mengecup pipi Beliau dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis harunya.

“Sayang, ini sudah merupakan kewajiban kami memenuhi semua hak kamu. Hanya saja, Mama tidak ingin meninggalkan kamu sendiri, walau ada pembantu di rumah ini. Jadi, Mama minta tolong pada Sari, kakak sepupu kamu untuk menemani kamu! Kamu gak keberatan kan sayang? Kebetulan dia juga bersedia.”  terang Beliau  meminta persetujuan Rina dengan tetap mengelus rambut lurus Rina yang lebat.

“Ya … nggak apa-apa! Ya udah, Rina ke kamar dulu ya Ma! Bye Mama!” jawabnya mengakhiri pembicaraan, lalu beranjak dari sofa dengan tersenyum paksa pada mamanya itu.

“Terima kasih sayang, kamu memang anak mama yang baik hati!” hilanglah keraguannya berganti dengan kenyamanan.

Di dalam kamarnya, Rina tak henti-hentinya mengutuki dirinya sendiri. 'Bego… bego… bego… kenapa sih, gue nggak nolak aja permintannya Mama, yakinin Mama kalau gue bisa hidup tanpa kehadiran orang lain, apalagi nih Sari???  Nyebelin banget, kenapa sih tuh anak sok baik banget mau nerima permintaan Mama buat nemanin gue? Padahal kan gue  jelas-jelas gak suka sama dia! Sebel… dasar bego…'

-ooOoo-

Assalamu’alaikum Rin, enggak ada acara hari ini?” sapa Sari ramah ketika melihat Rina dengan pakaian santainya. Kaus dan celana seperdelapannya.

Kumsalam, nggak, gi males!” sahut Rina tidak semangat.

“Wah, ada apa nih, tumben-tumbennya seorang Rina yang biasanya punya acara seabreg, sekarang malah males-malesan?! Ikut mbak yuk, mbak sama temen-temen mau pergi ke tempat yang pasti membuat kamu yang lagi enggak bersemangat ini, jadi kembali semangatnya. Mbak jamin deh! Ya, mau ya?” bujuk Sari tetap dengan keramahan dan candaan kecil.

“Nggak, makasih! Mbak Suuum … sarapannya dah siap beluuum?” teriak Rina dari ruang santainya.

“Eh, iya Non sudah siap. Baru saja mbak mau manggil Non Rina buat sarapan. Mari Non!” jawab Mbak Sum sopan, walau nafasnya terengah-engah karena berlari dari dapur menuju ke ruang santai anak majikannya.

“Ya udah, panggil mas Karyo suruh sarapan sama-sama, gue tunggu di ruang makan!” tanpa menghiraukan Sari yang tersenyum penuh arti padanya, Ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang makan.

Di ruang makan, Rina yang sudah menyeduh sarapan nasi gorengnya ke piring dan mengisi gelasnya dengan susu coklat kesukaannya menunggu kedatangan para pembantunya, “Lama banget sih, ngapain aja! Atau nggak mau sarapan barengan gue?!” sungut Rina kesal, melihat kedatangan mbak Sum, dan mas Karyo disusul oleh Sari.

“Maaf Non, tadi mas karyo ada urusan bentar. Ya udah, ayo Non sarapan!” akhirnya mereka duduk dan mulai mengisi piring dan gelas yang sudah ada di depan mereka, tiba-tiba Rina bangkit membawa sarapannya.

“Loh, Non Rina mau kemana? Katanya mau sarapan bareng?!” tanya Mbak Sum heran.

“Tadinya sih gitu, tapi gue jadi enek, gue makan di kamar aja!” memandang sinis ke arah Sari.

“Kalau gitu mbak Sum bawain sarapannya ya Non” Mbak Sum bangkit dari tempat duduknya, hendak membantu Rina, tetapi dicegah olehnya.

“Nggak usah, Mbak makan aja, kerjaan Mbak kan masih banyak, lagian Mbak juga harus gantiin kerjaannya Pak Maman ngurus kebun dan kolam renang!” tegasnya dan pergi meninggalkan ruang makan.

“Maaf, harusnya saya tidak ikut sarapan bersama, jadinya kan mbak Sum dan mas Karyo bisa sarapan bareng Rina” terang Sari menyesali kepergian Rina yang disebabkan olehnya.

“Loh kok ngomong gitu toh Non? Saya tau Non Rina tidak suka pada Non Sari, tapi mungkin karena tidak ada nyonya dan tuan, makanya si Non jadi tidak bersemangat begitu!” bela Mas Karyo.

“Terima kasih mas Karyo, tapi memang begitulah adanya. Apa salah saya ya sehingga Rina benci sekali pada saya?” tanyanya, entah pada dirinya sendiri atau pada  kedua pembantu yang sarapan bersamanya itu.

Melihat keponakan majikannya sedih, mbak Sum jadi berempati dan memegang tangan Sari, “Non, tidak ada yang perlu disalahkan! Kita semua tahu Non Rina berubah saat kakak satu-satunya yang paling menyayangi dan disayanginya meninggal dunia, walau begitu Ia tetaplah anak yang baik dan perhatian!”

“Iya Mbak, saya tahu, saya juga bangga padanya. Dia memang berubah, tapi kebaikan hatinya tidak pernah terlepas dari dirinya!” senyum manis bertengger di bibir gadis berumur dua puluh satu tahun ini, baju gamis lebar dan jilbab lebarnya menambah aura kecantikannya makin terlihat.

-ooOoo-

Jam di dinding rumah telah menunjukkan pukul 10.00 pagi, tapi Rina tidak juga keluar dari kamarnya. Sahutan mbak Sum tak digubrisnya, hingga tiba waktunya Sari harus pergi menuju tempatnya berkumpul bersama teman-temannya. Tapi Ia tetap bersikukuh ingin mengajak Rina, jadi Ia memberanikan dirinya untuk membujuk Rina.

Assalamu’alaikum, Rin. Teman-teman mbak udah pada di sana, kamu ikut dengan mbak ya, ayolah! Mbak enggak enak ninggalin kamu sendiri. Mbak tahu kamu suka sekali ke tempat-tempat yang berbaur langsung dengan alam, makanya mbak ngajak kamu. Mbak juga tahu, sejak kepergian mas Aldi kamu gak pernah lagi ke tempat favorit kamu itu kan?” hati-hati sekali Ia menyebut nama Aldi. 'Ya Allah, luruhkanlah hati Rina untuk pergi bersama hamba.'

Mendengar nama Aldi, Ia jadi teringat peristiwa mengenaskan yang tak pernah bisa diterimanya. Hingga Ia kehilangan kepercayaan kepada semua yang telah diyakininya selama ini. 'Huh … ngapain sih nih cewek ngotot banget ngajakin gue, tapi??? Ya udah deh, buat nenangin diri kayaknya nggak apa-apalah gue ikut, toh gue emang dah lama banget nggak ke tempat yang super indah itu.'

“Rina? Alhamdulillah, ayo kita udah ditunggu!” saking senangnya Sari melihat Rina yang luruh juga hatinya menarik tangan Rina, Rina hanya menurut saja tangannya digandeng. Entah kenapa jantungnya berdebar tak karuan. 'Aduh, kenapa sih, hai hati Lo kenapa?' Saking bingungnya Ia malah bertanya pada hatinya sendiri.

-ooOoo-

Assalamu’alaikum, Ukhti!” sapa seorang cowok dari arah belakangnya. 'Duh, suara itu?! Tapi, kok manggil gue Ukhti sih, kalau cewek kayak mbak Sari sih cocok dipanggil Ukhti, lah gue? Nggak pantes banget!'

Wa’alaikumsalam!” jawabnya ramah. Ia sendiri tak menyangka bahwa Ia bisa menjawab salam itu dengan ramah, padahal biasanya Ia tak bersemangat menjawabnya.

Lelaki yang memanggilnya Ukhti itu, duduk agak berjauhan darinya, tanpa menoleh Ia kembali bersuara, “Ana yakin anti sedang terpana melihat alam yang berada di hadapan kita ini. Sungguh menakjubkan, luar biasa bukan? Yah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam yang indah ini! DIA…”

“Hentikan! Kalau Lo ingin memuji-Nya, silahkan di tempat lain, bicaralah pada orang lain. Gue nggak sudi mendengarnya. Hati ini panas mendengar nama-Nya!” potong Rina, entah kekuatan dari mana, kini Ia kembali menjadi Rina yang jutek. Sejak kejadian mengenaskan itu, Ia tak percaya lagi pada Sang Maha, Zat yang dulunya sangat dipercayainya.

“Kenapa? Bukankah memang demikian?! Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan dan kekuasaan Allah, DIA-lah yang telah menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi. Lihatlah alam di depanmu, langit yang dipenuhi awan putih yang indah, burung-burung yang berterbangan kesana-kemari, bunga-bunga indah bermekaran, hingga mampu menggugah kumbang untuk mendekatinya, manusia yang selalu diberi nikmat yang berlimpah. Semua keindahan alam ini, Allahlah yang menciptakan dan mengaturnya. Bukankah hanya kekuatan yang besar yang bisa mengatur semua ini, dan Allah-lah Sang Maha Besar itu!” jelasnya dengan penuh semangat, tetap dengan suara rendah tanpa emosi.

Sungguh mulia hati pemuda ini, tapi Rina pun pernah mendengar itu, bahkan sempat mempercayainya, dan ucapan itu kini tidak bisa lagi meruntuhkan hatinya yang telah keras.

“Gue tahu, perkataan itu pernah diucapkan oleh seseorang. Tapi Dia telah meninggal dunia” sahut Rina sedih, Ia benar-benar tidak dapat lagi memendam perasaan sakitnya, tangisnya pecah.

Innalillahiwainnailaihirajiun! Moga Ia tenang di alam sana. Jika demikian, Ia pasti akan mendapatkan janji Allah untuk memberikan yang terbaik pada hamba yang terbaik!” ucapnya lirih.

“Yah, harusnya memang demikian, tapi DIA telah ingkar pada janji-Nya. Ia mengambil mas Aldi dengan cara yang sangat menyedihkan dan jauh dari kematian yang seharusnya dihadapi oleh mukmin yang beriman!” seru Rina, Ia benar-benar marah pada-Nya.

Astaghfirullahal’adzim! Ketahuilah, hanya Allah, Zat yang tidak pernah ingkar pada janji-Nya. Apa yang menyebabkan anti berpikir seperti itu?” suaranya terdengar prihatin, Ia tidak terlihat emosi mendengar kemarahan gadis yang tak diketahui wajahnya karena memang belum melihat ke arah gadis itu.

Begitupun Rina, entah kenapa Rina enggan menoleh pada cowok yang menumbuhkan kembali rasa sakitnya.

“Mas Aldi orang yang baik dan sangat baik malah, Ia tidak pernah terlihat mengeluh, Ia selalu melakukan apapun untuk menyenangkan hati orang-orang di sekitarnya, Ia selalu berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, Ia tidak pernah meninggalkan ibadah wajib dan sunnahnya, Ia selalu berkata bahwa apa yang dilakukannya hanyalah untuk menggapai ridho-Nya. Tapi apa balasan yang diterimanya dari Zat yang sangat diagung-agungkannya itu...?!” Rina berhenti mengatur nafas dan tangis yang semakin deras keluar dari matanya.

Cowok itu hanya mendengarkan, tidak ingin menyela karena Ia yakin Rina masih ingin meneruskan ucapannya. Dan ternyata ya. Rina terus mengungkapkan isi hatinya, yang telah lama dipendamnya.

“Mas Aldi meninggal dunia saat Ia akan pergi mengisi tausiyah di kampusnya, dengan mengendarai motornya Ia menjalankan tugas yang dinanti-nantinya itu. Heh ... mas Aldi, betapa senangnya Ia bisa berdakwah. Tapi dalam perjalanan menuju kampus, sebuah truk menabraknya, sopir truk itu mabuk, hingga tak menyadari keberadaan sepeda motor di depan truknya. mas Aldi meninggal seketika dengan darah yang terus mengucur dari tubuhnya, motornya hancur berantakan. Apa itu balasan bagi orang yang selalu menjaga dirinya berada di jalan yang benar? Kematian yang sangat mengenaskan? Harusnya Ia meninggal seperti apa yang telah didambakannya, husnul khotimah!” lega sudah perasaannya.

Yah bukankah permasalahan itu akan sedikit hilang bila telah terungkapkan segalanya, walau belum terpecah seutuhnya, setidaknya Ia telah bisa melampiaskan amarahnya.

Subhanallah! Maha Suci Allah atas segala yang terjadi di dunia ini, Ukhti tidakkah terpikir olehmu justru kematian itu adalah bentuk kasih sayang Allah pada kakakmu yang berhati mulia itu, Ia mengambil seketika nyawa kakakmu tanpa membuat dia merasakan sakit yang luar biasa. Coba anti pikir, betapa banyak manusia yang menderita hidupnya akibat kecelakaan seperti yang dialami almarhum, koma beberapa hari, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, lumpuh total hingga hanya bisa meratapi hidupnya di atas kasur, mereka hidup tapi seperti orang yang tak bernyawa."

“Dan Allah, karena kasih sayang-Nya pada almarhum tidak membiarkan hal menyedihkan itu terjadi padanya, karena memang Ia adalah manusia yang terbaik, malaikat, nabi, para sahabat, dan orang-orang mukmin yang beriman dan bertaqwa pada Allah menanti kedatangannya. Semua yang ada di dunia ini telah diatur oleh Allah, hidup ini pilihan dan manusialah yang memilih jalannya, apakah jalan yang diridhoi Allah atau jalan menuju kesenangan dunia, dan mas Aldimu telah memilih jalan yang tepat."

“Bukti kasih sayang Allah, juga ada pada dirimu. Lihatlah, DIA masih menjagamu, memberikan nikmatnya, padahal anti jauh dari-Nya, anti tidak lagi percaya pada-Nya, bahkan berprasangka buruk. Tapi apa balasan-Nya atas ketidaksukaanmu, Ia justru memberikan nikmat kehidupan yang jauh dari kesengsaraan padamu, padahal di luar sana, betapa banyak orang-orang yang menderita kehidupannya, sedangkan mereka sangat mempercayai keagungan-Nya. Tapi mereka tidak pernah mempersoalkan itu, karena kebahagiaan akhiratlah yang mereka inginkan!” urai cowok itu dengan beberapa butir air mata menetes membasahi wajah dan pakaian yang dikenakannya. Ia bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan Rina yang masih tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

Perkatan cowok itu benar-benar menusuk hati dan berhasil meruntuhkan kekerasan hatinya. Hingga saat Ia menoleh untuk mengucapkan terima kasih, lelaki itu tak ditemukannya lagi. 'lelaki itu telah pergi, seperti malaikat saja, tapi apa mungkin yah? Bisa jadi Ia adalah malaikat yang diturunkan untuk menyadarkan gue.'

“Rina ... ternyata kamu disini?! Ayo, kita salat dzuhur, setelah itu kita berangkat bersama ke tempat yang akan lebih membuka pintu hati kita dan takkan henti bersyukur pada nikmat-Nya yang melimpah dalam diri ini.” karena begitu semangatnya, Sari tak menyadari mata cantik Rina bengkak oleh tangisnya. Rina bangkit dengan hatinya yang lebih baik dari sebelumnya.

'Udah lama gue nggak salat dan berdoa, tapi Allah tetap saja memperlihatkan kasih sayang-Nya. Astaghfirullahal’adzim. Rabb, Engkau tak pernah meninggalkanku, Engkau tak pernah membiarkanku berbuat hal yang buruk, padahal bisa saja itu terjadi. Tapi, atas pertolonganmu, aku tak tersentuh pada segala keburukan itu. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Hamba datang Rabb, hamba kembali pada-Mu, tuntunlah selalu hati ini di jalan-Mu. Aamiin.'

-ooOoo-

Rombongan Sari telah tiba di tempat tujuan terakhir mereka, Panti Asuhan Hidayatullah. Di tempat inilah kembali mereka akan mengintropeksi diri termasuk Rina. Ia kini bersama seorang remaja seumurannya, gadis itu begitu tegar tanpa sedikitpun terlihat berkas kesedihan di matanya, padahal Ia sedang menceritakan nasibnya yang begitu jauh dari nikmat kasih sayang kedua orang tua.

“Aku kadang rindu sama kedua orang tuaku, walau mereka meninggalkanku di sini sejak aku bayi, tapi mereka tetaplah orang tuaku. Aku yakin Allah punya rencana di balik peristiwa yang kualami ini. Yah, aku memang selalu mendapatkan kasih sayang dari ummi, mas Imam, serta saudara-saudariku di sini. Tapi tak berlebihan bukan bila aku juga ingin merasakan pelukan ibu dan ayah, serta hidup dalam keluarga yang harmonis. Kadang aku iri melihat teman-temanku di sekolah yang diantar-jemput oleh orang tuanya."

Aku sadar, harusnya aku bersyukur karena Allah sayang padaku, hingga tak membiarkanku menjadi gelandangan. Walau terkadang kehidupan di panti asuhan ini penuh dengan segala cobaan, seperti kelaparan, ejekan teman, dan hal yang menusuk kalbu lainnya. Namun, bukankah memang setiap kehidupan itu akan mengalami cobaaan sesuai kemampuannya?! Cobaan yang kami alami merupakan tanda kasih sayang Allah pada kami. Hingga saat kami merasakan kehidupan yang berkecukupan, kami akan sangat mensyukurinya.” Mendengar penuturan tulus dari gadis di sampingnya, Rina semakin sadar dan mensyukuri apa yang telah dialaminya.

'Mama, Papa, Rina kangen. Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberikan kedua orang tua yang sayang pada hamba dan kehidupan yang serba berkecukupan. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya, selama ini aku selalu menyalahkan Allah. Ampuni hamba Rabbi, jaga orang tua hamba yang masih berjuang demi kebahagiaan hamba.' Tanpa sadar Rina memeluk gadis yang telah menyadarkannya betapa kehidupan ini harus disyukuri bagaimanapun keadaannya.

Seorang cowok yang dari tadi hanya mendengar dari jauh, langsung mendekat. “Alhamdulillah, sesungguhnya hidayah itu adalah milik Allah, DIA-lah yang berhak menentukan kepada siapa hidayah itu diberikan, dan manusia hanyalah berkewajiban berdakwah serta menyerahkan hasilnya pada Allah.” serunya haru.

Rina kaget melihat cowok yang kini berada di depan mereka itu. Wajahnya, suaranya, mengingatkan Rina pada seseorang. Cowok itulah yang telah membuka pintu hatinya yang hampir tertutup. Dan ternyata cowok itu benar-benar mirip dengan insan yang begitu dirindukannya. Ia seperti melihatnya kembali. Ingin sekali rasanya Ia memeluk cowok tampan itu, tapi Ia sadar hal itu tidak mungkin dilakukannya.

“Mas Imam, kaukah itu, ke mana saja? Nadia kangen ingin dengar cerita-cerita mas tentang keagungan Allah yang tiada tara itu!” Ucap gadis di samping Rina, yang ternyata bernama Nadia dan Rina lebih terkejut lagi karena ternyata Nadia buta. 'Ya Allah, Nadia, Subhanallah!'

-ooOoo-

Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, Rina berubah total, Ia kembali menjadi gadis yang periang, yang sering mengusili mbak Sum, bila terlihat olehnya mbak Sum masak sambil senyum, Ia akan membuat pembantunya itu malu.

Yee... yang lagi kasmaran? Mikirin si pujaan hati ya?” begitulah Ia menggoda pembantunya yang hanya terpaut satu tahun lebih muda dari mas Aldi, bahkan sempat terpikirkan untuk menjodohkan keduanya. Karena mbak Sum adalah pembantu tercantik di kompleksnya, baik, dan tak pernah melepas jilbabnya.

Siapa lagi yang telah merebut hati dan pikiran mbak kami tercinta ini?” godanya lagi, hingga membuat mbak Sum hanya bisa tersipu malu dan terus memasak.

Tidak ketinggalan pembantunya yang lain, bila dilihatnya pakde Maman sedang membersihkan kolam renang, dengan sengaja Ia akan melempar beberapa bungkus makanan ke kolam, dengan begitu pak Maman akan ngedumel pelan,

“Duh Non, kolamnya sudah bersih, kok malah dikotori lagi toh?” sungutnya sambil tetap menyelesaikan tugasnya yang tadinya telah selesai.

Dan bila pakde Maman terlihat mengurut dadanya dan terbatuk-batuk, maka Rina jadi menyesal dan membantu pakde Maman mengambil alih pekerjaan pembantunya yang telah berumur mendekati kepala lima.

“Maaf ya Pakde, gue cuma becanda kok, sini biar gue yang bersihin!” sahutnya sambil mengambil jaring yang ada di tangan pakde Maman.

Lain lagi dengan nasib satpamnya, Rina akan mengajak satpam kesayangannya  mas Karyo bermain basket. Jelas saja mas Karyo yang juga satpam termuda di kompleksnya kalah dengan Rina yang sangat ahli dalam permainan basket. Dan bila telah kalah, Mas Karyo harus dengan rela menerima hukuman dari Rina yang terkadang aneh dan menegangkan buat satpamnya. Misalnya, saat itu, Rina malah menginginkan satpamnya itu mengajarinya mengendarai mobil, atau pernah diminta menemani sang majikan ciliknya berjalan berkeliling kompleks.

Bahkan, tak segan-segan Rina akan meminta mas Karyo untuk menggoda cewek yang lewat di depan mereka, jelas saja mas Karyo menolaknya dan akan dengan rela terpaksa menggendong Rina di punggung gagahnya mengelilingi kompleks, karena memang Ia adalah cowok yang takut pada cewek. Entah kenapa Ia begitu takut menyakiti hati wanita, dan hal itu membuat Rina bangga pada satpamnya itu, bahkan sempat terpikir olehnya untuk menjodohkan mas Karyo dengan mbak sari, 'mereka pasti akan menjadi pasangan yang serasi, istri shalihah dan suami yang shalih.' Kadang Rina tertawa sendiri menyadari apa yang ada di pikirannya. 'Aneh-aneh saja!'

Begitupun dengan Sari, Ia tak kehabisan akal untuk menjahilinya. Yah, sejak saat itu, Rina kembali akrab dengan Sari, mereka selalu terlihat tertawa bersama, dari Sari, Rina tahu bahwa kebutaan yang terjadi pada Nadia disebabkan karena kecelakaan, juga tentang Imam yang ternyata juga anak dari panti asuhan hidayatullah. Imam jugalah yang membantu Umi Hanifa menafkahi anak-anak panti.

Oh ya, untuk Sari, Rina akan menggodanya dengan cara yang cukup unik. Ia akan mengajak mbak Sari yang sangat dikaguminya itu berdiskusi, dan entah dari mana akan langsung melebar hingga mengenai kehidupan pribadi Sari. Yah, Ia akan menggoda sepupunya itu, “Terus, Mbak Sari kapan akan melabuhkan hati yang suci itu? Gue kepengen gendong ponakan nih Mbak, gimana kalau...”

Belum selesai Ia menggoda, Sari segera menanggapi gurauan adik sepupunya itu, Kamu ini selalu saja membicarakan hal itu. Tidak capek apa menggoda mbak terus?!” Walau begitu Rina akan kembali takjub dengan petuah kakak sepupunya.

“Rezeki, Jodoh, dan kematian itu telah digariskan oleh Allah, kita sebagai manusia hanya dapat berusaha  untuk meraih kehidupan yang di ridhoi-Nya. Syukuri apa yang telah diberikan Allah padamu, jangan pernah mengeluh, jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Ingatlah, hanya cinta Allah pada hamba-Nya-lah merupakan cinta sejati. Cinta yang ada pada diri manusia itu adalah anugerah Allah. Karena itu, manusia harus bisa menjaga cinta yang di anugerahkan pada hatinya itu untuk semakin dekat dengan Sang Pemilik Cinta yang sesungguhnya. Jangan sampai cinta itu justru membuatmu jauh dari-Nya. Naudzubillahi mindzalik, moga kita tergolong hamba yang terjaga cintanya dan hanya menyerahkan cinta kita sepenuhnya pada Allah SWT.”

'Hah, bener, gue nggak akan pernah menang dengan mbak Sari. Tapi, gue seneng karena kata-kata yang diucapkannya itu akan menjadi pegangan dalam hidup gue untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan diridhoi-Nya.'

-ooOoo-

Hari ini hampir seluruh acara di televisi menyiarkan tentang persiapan masyarakat menyambut bulan ramadan. Yah, esok umat muslim akan menjalankan salah satu rukun Islamnya berpuasa di bulan ramahan. Rina kembali teringat pada Aldi, saat di mana hatinya begitu gelisah saat Aldi pergi ke kampusnya, dan kegelisahan itu terjawab. Tapi, ada satu hal yang hampir saja terlupa olehnya. Beberapa menit sebelum pergi, Aldi menyerahkan sebuah bingkisan padanya, padahal saat itu Ia tidak sedang berulang tahun.

Semenjak kematian kakak tercinta, bingkisan itu tak pernah disentuhnya, tersimpan di dalam lemari belajarnya. Malam menjelang puasa itu, Ia memberanikan diri membuka bingkisan pemberian Aldi. Berurailah air matanya saat melihat isi bingkisan itu, Ia mengambil kertas surat yang ada, dan mulai membacanya diselingi isak tangis yang mengalir deras di wajahnya.

Assalamu’alaikum, Rinaku sayang,
Hei, jangan nangis dulu dong, belum kebaca seluruhnya nih, hehe... pede banget yah, ya iyalah secara gitu loh. Pasti ngedumel nih, iya deh afwan, eh tau afwan kan?! Hehe... oke. Serius nih, bener serius!
Adikku, pujaan hatiku, belahan jiwaku.
Mungkin saat engkau membaca surat ini, mas telah kembali pada cinta kita semua, Allah SWT. karena itulah akhir kehidupan manusia di dunia. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kematian merupakan ujian bagi orang yang ditinggalkan, semoga engkau, mama, papa, dan keluarga dapat menerima ujian ini dengan lapang dada dan tetap berserah diri pada Zat yang Maha Mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan makhluknya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Bidadariku,
Mas sangat bersyukur pada Allah, alhamdulillah, mas diberi keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Apalagi engkau, mas sangat bersyukur diberi adik yang begitu tulus, mas salut padamu, saat remaja seumuranmu belajar bagaimana memanfaatkan harta, kehidupan, dengan cara menikmati keindahan dunia, engkau justru banyak bertanya tentang Zat yang hampir terlupa oleh sebagian manusia. Engkau begitu antusias saat mas menjelaskan tentang Allah, Nabi, para sahabat, dan agama yang mulia ini, Islam. Engkau lebih memilih belajar bagaimana beribadah agar diridhoi Allah, ketimbang berkumpul, bersenang-senang dengan teman-temanmu. Engkau dengan kesederhanaanmu tidak pernah meremehkan, dan justru menghormati orang lain. Mas benar-benar bangga padamu, dan mas yakin orang lain pun bangga padamu, Allah pun bangga padamu. Mas yakin itu.
Ukhti tercinta,
Untuk melengkapi segala ketulusan itu, baiknya dibarengi dengan sesuatu yang akan menambah kekuatan iman. Bukankah itu juga merupakan kewajiban?! Sucikan hatimu, tetaplah berpegang teguh di jalan-Nya, sayangi orang-orang di sekitarmu. Mas titip mama dan papa ya, juga keluarga. Bimbing mereka untuk memilih jalan kehidupan yang benar, mas yakin kamu akan menjadi seorang daiyah yang luar biasa. Tetap istiqamah Ukhti. ^_^
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Kakandamu Tecinta (Aldi)

-ooOoo-

Rina telah siap dengan dandanannya kali ini, tepat setelah pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara Ibu Mirna. “Sayang, sudah siap? Ayo, kita harus segera berangkat!”

Rina pun langsung bergegas membuka pintu kamarnya, dan terlihatlah mimik keterkejutan dari paras Ibu tercinta.

“Ya Allah, subhanallah! Alhamdulillah! Ayo, papa, mbak Sari dan yang lainnya pasti akan takjub melihat perubahan penampilanmu!” ujar Ibu Mirna senang.

Kembali pujian kepada Allah yang terdengar dari lisan mereka setelah melihat penampilan Rina dengan balutan gamis biru dan jilbab senada pemberian Aldi. Ia begitu mempesona dengan penampilannya kali ini.

Setibanya di tempat yang di tuju, seluruh warga panti ikut takjub dengan penampilan baru Rina, namun Rina pun  ikut terkejut sekaligus senang mendengar apa yang diucapkan papanya.

“Imam, anakku kemarilah!” bentangan tangan pak Taufiq segera mengatup memegang punggung Imam yang kini telah ada dalam pelukannya.

'Ya Allah, pantas saja aku seperti melihat mas Aldi ketika melihat mas Imam, ternyata mereka adalah saudara kembar. Mas Imam hilang di rumah sakit, entah siapa yang mengambilnya dan meletakkannya di depan panti asuhan. Ya Rabb, begitu indahnya jalan kehidupanku, Engkau ambil mas Aldi hingga membuatku jauh dari-Mu, dan Engkau datangkan Mas Imam untuk mengembalikanku pada-Mu, Maha Besar Engkau atas segala yang terjadi di dunia ini.'

Ibu Mirna yang tak tahan lagi, menumpahkan tangisnya dalam pelukan Imam, begitupun Rina. Sari dan seluruh manusia yang melihat adegan mengharukan di sana pun tak luput dari tangis bahagia di malam pertama ramadhan. Rina yang menyaksikan itu berbisik di hatinya, 'Mbak Sari walau nangis tetap terlihat cantik, begitupun Mas Imam ketampanannya tidak hilang walau air mata membanjiri wajahnya, kenapa aku tidak menjodohkan mereka saja yah, hehehe...'

Dasar Rina, lagi pesta air mata, tetap saja pikiran usil mampir di pikirannya. Dasar anak muda! Sejak saat itu, panti asuhan hidayatullah menjadi tanggung jawab Pak taufiq. Jadilah malam pertama bulan ramadan Rina tanpa Aldi berganti bersama anak-anak panti dan tentu saja Imam, anak dan kakak yang hilang selama ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;